Rabu, 08 Oktober 2014

Merendahkan, Bikin jadi Individualis... tapi Ngangenin?

Cuap-cuap saya hari ini terinspirasi dari petikan sinetron Cinta Tak Pernah Salah yang dibintangi Paramitha Rusady dan Gunawan pada 2002 lalu. Ceritanya, sinetron ini sudah sampai pada episodenya yang ke-4. Dalam episode tersebut, ketika Handoko (ayah Paramita, diperankan Toro Margens) memarahi Paramita (Paramita Rusady) karena berpacaran dengan Roy (Gunawan) karena sebal, ia memberikan bukti kepada anaknya dengan segebung bukti bahwa Roy tak pantas dicintai. Salah satunya adalah ospek begitu merendahkan harga diri manusia

Nah, selain itu, beberapa hari yang lalu saya me-retweet kicauan seorang penulis terkenal yang juga favorit saya, Alberthiene Endah yang mengkritik beberapa hal terkait masalah ospek dan nama-nama samaran lainnya seperti makrab (malam keakraban) dan lain-lain. Ia mengatakan: konsep ospek tuh harusnya lawak-lawak aja, kecuali jika lulusannya ingin diarahkan menjadi preman pasar. 

Dan... ingatan saya terbang ke setahun lalu, ketika saya di-ospek (dengan nama samaran malam keakraban) dengan atribut sebagai berikut: besek yang ditancapkan awan bertuliskan ED (English Department) di dalam sebuah awan hijau lengkung tiga belas (karena angkatan 2013) dengan kawat, baju longgar dengan warna kuning dan biru (di-switch dua hari satu malam), celana training, sepatu, termos yang dikalungkan dengan tali yang dikelabang. Tanda pengenal juga dibuat superunik dengan menggunakan bentuk layang-layang, tampak depan dan tampak belakang. Tampak depan adalah tiga huruf awal nama peserta, sedangkan tampak belakang adalah nama kelompok yang terambil dari satu kata dalam judul buku terbitan Penguin Readers yang biasa digunakan sebagai media belajar mata kuliah Extensive Reading. Di sana kami diminta untuk ikut welcoming game yang bukannya menyenangkan malah bikin tegang karena dimarah-marahin executor (tukang marah-marah). Setelah lelah, sesi checking tiga jam yang bikin lama karena hanya mengecek apa yang diminta oleh panitia seperti koin receh de-te-be-el (dan tetek bengek lainnya). Saya maju hanya gara-gara lipstik yang salah warna. Dimintanya merah cabe, tapi dapatnya warna crimson red atau crimson pink. Dan dimarah-marahi karena salah ini-itu-gini-gono-gitu-deh! Sampai gusi gue BERDARAH hanya buat nungguin kapan marah-marahnya selesai. Ditambah lagi penyusup dari angkatan tua yang kerjaannya bikin onar. Sialnya, penyusup itu ada di kelompok saya!

Baiklah, yang saya mau telaah adalah: kenapa konsep makrab (nama samaran ospek) itu harus berkaitan dengan hal-hal kejam yang merendahkan martabat, tetapi tidak sesuai dengan akronim yang diciptakan. Malam Keakraban. Kalau dibilang malam keakraban, berarti segala sesuatu harus dilakukan dengan akrab, menjalin kebersamaan, saling menguatkan, saling ketawa-ketiwi-cekikikan-sana-sini, tidak dengan eksekusi, dan diakhiri dengan minta maaf karena semuanya pura-pura dan hanya acting. Dan satu hal tercipta di benak saya: apa-apaan ini?

Begitu, ya, cara mengakrabkan diri dengan senior? Senior menunjukkan kekuasaannya sementara si juniornya sendiri terkapar tak berdaya dalam kekuasaan senior yang (katanya) mencoba mengetes mental, karena hipotesis saya yang berbunyi 'marah-marahnya senior itu hanya satu persen dari kerasnya kehidupan kampus yang kamu jalani' itu benar-benar terbukti. Dan, lihat buktinya. Dengan kekejaman itu, jurang antara progdi kami dengan progdi sebelah justru semakin melebar (tetapi untunglah telah dilakukan klarifikasi karena kejadian yang memang bikin kuping LKF panas). Anak-anak malah nggak nyatu satu sama lain, malah tenggelam dalam individualismenya sendiri. 

Tapi banyak orang ngomong kalau suasana digalak-galakin seperti itu adalah ngangenin. Lima belas persen saya mengakui hal itu, tetapi... sisanya? Sepertinya tidak ingin berada di neraka untuk kedua kalinya. Apakah lulusan kita diarahkan menjadi lulusan yang tidak peka akan keberadaan orang lain sebagai manusia? Apakah lulusan kita ingin menjadi orang yang hanya keras di depan tapi lembek di dalam? Hmm... biar ospek dari universitas itu sendiri yang menjawab.


Selasa, 16 September 2014

Beauty Inside, Beauty Outside!


Cerita saya hari ini tidak membahas masalah make up dan sebagainya. Saya hari ini mau bercerita tentang sesuatu yang lebih dalam dan lebih pantas dari pada pensil alis, maskara, lensa kontak, perona pipi, blush-on, dtbl (dan tetek bengek lainnya). Saya ingin bercerita dan memotivasi buat kamu yang merasa minder ketika bertemu teman yang mukanya setingkat lebih enak dipandang.

Pertanyaan saya: buat apa kamu minder? Ya, terkadang minder bisa membuat kita menjadi tahu akan kelebihan-kekurangan kita lebih dalam. Tetapi, apakah dengan minder kita bisa mengubah wajah kita yang membuat kita minder menjadi enak dipandang dengan sekejap mata? Atau, dengan minder kamu pikir kamu nggak bakalan dapat cowok yang kamu idam-idamkan? Atau, kamu berpikir mereka yang berbadan cantik dan bertubuh singset adalah lambang kehidupan bahagia? Jawaban dari ketiga pertanyaan retorik itu adalah tidak sama sekali

Krisdayanti yang begitu cantik dan telah menjalani operasi hidung merasakan kehidupan pernikahannya dengan mantan suaminya, Anang Hermansyah, sangat tidak bahagia. Malahan dia nganclong dengan pengusaha asal Timor Leste, Raul Lemos dan dituduh merebut suami orang. Ya, kan? Artis seksi Julia Perez justru diputus Gaston Castano hingga akhirnya batal menikah. Banyak contoh publik figur berbadan kurus dan cantik merasa tersiksa dengan kehidupannya. Bukan karena analogi orang berbadan makmur hidupnya semakmur badannya, lho! Tidak!

Justru satu hal yang penting buat kamu: tonjolkan keindahan budi pekertimu. Percuma kamu punya wajah cantik dan badan langsing tetapi budi-pekertimu menunjukkan bahwa kamu tidak pantas memiliki wajah cantik. Budi-pekerti yang baik tidak menjamin bahwa hidupmu akan mulus, tetapi dengan hal itu kamu akan merasakan bahwa kamu dicintai dan kamu ada. Bukan hanya sekadar dikagumi karena wajahmu mulus tak berpanu. :)

Sekarang, kamu mau bermenor ria atau tetap berdandan sederhana namun menunjukkan keindahan budi pekerti? Itu pilihanmu. :)

Minggu, 14 September 2014

Lipat Tangan, Tutup Mata... Mari Kita Berdoa!


Sebelum kita sharing masalah yang sebenarnya sangat vital ini, yuk jawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Pertama, bisakah kita berdoa? Kedua, seberapa seringkah kita berdoa? Ketiga, apakah kita selalu menolak/merajuk ketika kita ditunjuk untuk berdoa karena kita masih berpikir kalau doa itu harus panjang dan puitis. Kalau tidak, doa kita hanya akan 'nyangkut' di awan. Tidak sampai ke telinga Tuhan.

Nah, jika jawaban pertanyaan ketiga adalah 'ya', maka cobalah untuk mengesampingkan pemikiran itu dari sekarang. Hakikatnya, doa adalah salah satu bentuk komunikasi kita kepada Tuhan mengenai hal-hal yang tak bisa disimpan di dalam hati. Ketika memang kita sudah 'lelah' dan tak dapat mengungkapkannya kepada Tuhan, mari kita menjadikan Tuhan sebagai teman kita yang abadi. Yang baka. Yang tak tergantikan. Asal tahu, 'berbicara' dengan Tuhan bisa dianalogikan 'curhat' dengan sahabat, 'mengobrol' dengan orang tua, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan jika kita tidak berbicara dengan Tuhan sehari saja. Kosong. Melompong. Menganga. Sesak, bahkan!

Kalau berdoa adalah satu bentuk komunikasi yang sifatnya intim, maka kalau ingin terdengar intim dengan-Nya, kita harus menyediakan waktu dan tempat. Garis bawahi, ya. Menyediakan. Berbeda artinya dengan menyisakan. Apakah orang menerima makanan sisa? Kalau saya, asal masih banyak, masih bisa menerima. Dengan syarat: makanannya masih hangat dan jelas enak. Beda dengan orang lain. Mokus banget, ya (mokus = rakus, bahasa Batak)! Nah, apakah Tuhan menerima waktu sisa? Yesus saja masih menyempatkan diri untuk berdoa bahkan di saat-saat genting sekalipun, masa dua puluh empat jam yang diberikannya tidak diberikannya bangsa sejam-dua jam saja? Apalagi kalau yang pacaran. Kalau malam mingguan berdua saja bisa disediakan waktunya, waktu berdua buat Tuhan saja masa tidak bisa disediakan? Tidak usah dijelaskan panjang-lebar kalau doa adalah ibadah yang paling sederhana (menurut saya)? 

Ada sebuah pokok doa yang baru saja saya dengar saat khotbah ibadah Minggu tadi. Indah dan baik. Begini: Ya Tuhan, berkatilah tidurku malam ini dan perkenankan saya untuk dapat bangun esok pagi. Namun, jika esok pagi saya tidak bisa bangun, biarkan jiwa saya terbangun dalam tangan kasih-Mu. Hiks :'( Saya benar-benar tergetar mendengar kata-kata tersebut. Secara langsung, ia menyerahkan hidup-mati-Nya di tangan-Nya. Lha, bagaimana orang mau berdoa sebelum tidur? Dia berdoa, lalu biasanya 'amin'-nya besok pagi. Ya, kalau misalnya ia ingat masih dalam kondisi berdoa. Bagaimana kalau tidur betulan? Bagaimana kalau besok ia tidak terbangun? Bukan tidak terbangun karena kesiangan, tetapi tidur yang 'benar-benar' tidur! 

Jadi, bagaimana? Masihkah doamu 'dor'--alias didengar orang, bukan didengar oleh Allah?

Selasa, 09 September 2014

Hipokrit

Seribu puk-puk pun nggak bakalan cukup untuk menghibur dari ratapan nasib saya yang memang sedang merasa serba salah. Ketika kamu merasa serba salah, kamu pasti akan curhat, 'kan? Curhat kepada seseorang yang bisa kamu percaya, yang bisa kamu beri rahasiamu, dan bisa memberikan solusi yang justru menentramkan setiap sisi hatimu yang kegundahan. Dan, kamu bisa ngebayangin nggak kalau kamu harus curhat karena kesalahan sendiri? Dan kesalahan itu adalah kesalahan yang paling ngena dan yang paling nggak bisa diubah dalam hati kamu. Yak, hipokrit! Hipokrit = orang yang berpura-pura.

Menjadi hipokrit adalah (sebaiknya) sesuatu yang dihindari untuk sebagian orang. Kamu bayangin aja bagaimana wajah Arjuna yang menyimpan jiwa Sangkuni di dalamnya! Ngenes, kan? Itulah yang begitu mencabik perasaan saya akhir-akhir ini. Rasa hati saya tercabik dikarenakan sebuah hal sepele.

Ceritanya, progdi saya akan mengadakan acara kumpul-kumpul, meski mereka menyebutnya sebagai makrab. Nah, dari awal saya memang sudah tidak simpati dengan diadakannya makrab ini karena saya disandingkan dengan seseorang yang sudah saya beri rasa antipati sejak awal. Salahnya satu: bercandanya nggak tahu aturan dan mulutnya itu lebih nyelekit dan lebih pedas daripada mulut saya! Siapa yang mau simpati bahkan empati sama orang yang demikian? Sifat buruk sayalah yang mendorong untuk menabur benci bahkan kesumat (bayangkan, tingkatannya sudah kesumat!) kepada orang yang saya benci itu.

Dan, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari kepanitiaan itu. Pertama, karena saya nggak suka sama orang itu. Kedua, karena saya nggak mau merusak angkatan. Serius, maksud saya baik, tetapi rupanya maksud baik saya disambut dengan pemberian pemahaman oleh teman saya: by phone. Tujuannya, sesuai dengan akronimnya, yaitu "malam keakraban" memang ditujukan untuk meluruskan persepsi anak-anak progdi untuk menjadi akrab, dan untuk menjembatani antara anak yang satu dengan anak yang lain. Tetapi... rupanya rencana mulia ini disambut dengan kontra sebagian anak yang ngomong kalau acara ini beginilah, begitulah, enggak gunalah, dan lain-lain. 

Tersentuhnya di situ. Panitia bahkan koordinatornya harus berusaha keras untuk meyakinkan mereka yang berpendapat demikian agar mau dan merangkul.

Di balik itu semua, saya harus menetapkan diri saya. Ikutkah, tidakkah? Jawabannya...

Sabtu, 06 September 2014

Drama yang Berkehidupan atau Kehidupan yang Berdrama?

Kata Achmad Albar, dunia ini panggung sandiwara. Hush, jangan nyanyi, ah! Lagi pengin hening, nih! Tapi, hening hening begini kenapa pengin nulis, ya? Hmm... sepertinya malam minggu ini saya akan berkencan dengan tik-tak-tik-tuk laptop. Kalau mau pasang backsound, cukup dengan lagu latar belakangnya saja, ya. Trims!

Drama bukanlah sesuatu yang asing dalam hidup kita. Achmad Albar pun berkata demikian, 'kan? Drama punya banyak unsur. Tatalampu, tatabusana, pemain, naskah, dan sebagainya. Kita pun harus memainkan lakonnya dengan baik dan benar, pun dengan sepenuh jiwa. Penghayatan, ekspresi, dan lain sebagainya harus dimaksimalkan. Kalau nggak maksimal, yang ada malah penontonnya walkout langsung dari babak pertama drama diadakan. 

Lalu, apakah hidup kita asing akan drama? Maksudnya--pertanyaan retoris sih--, apakah kamu sadar kalau hidup kita ini drama? Skenario kita sudah diberikan sejak lahir, tidak pakai casting, tidak perlu pakai pakaian khusus, tidak perlu pakai riasan sana-sini, tidak perlu sibuk-sibuk menghafal dialog, dan tidak perlu juga latihan selama berbulan-bulan hanya untuk sebuah pentas megah penuh gairah. Tinggal lakonkan saja apa yang sudah menjadi peranmu yang telah direncanakan Sang Sutradara.

Sekarang, dibalik. Dramakah kehidupan kita? Bagaimana sih rasanya punya peran yang menjadikan kita pemeran lain, menghilangkan peran sesungguhnya dalam kehidupan ini? Bagaimana sih rasanya mengatakan dialog yang bukan dialog yang seharusnya keluar dari mulut kita? Bagaimana sih rasanya mengekspresikan sesuatu yang tidak natural? Bahkan, saya mau nanya, bagaimana sih rasanya memperkatakan dialog yang berasal dari seribu naskah dengan ekspresi yang berbeda-beda tetapi satu panggung? Mungkin itu yang disebut dengan kehidupan yang penuh drama. Salah-salah narasi, salah-salah dialog, ditimpuk deh. 

Kita renungkan, apakah kita punya drama yang berkehidupan, atau justru sebaliknya... kehidupan yang berdrama?

Jumat, 05 September 2014

Diksi

Celoteh saya hari ini berdasarkan iklan yang menurut saya agak aneh. Saya nggak mau sebut itu apa tapi saya hanya mau memberikan sebuah pelajaran yang penting bagi kita semua, baik dalam tulisan maupun lisan. Ini masalah serius, jadi belalakkan matamu. Jangan berkedip! 

Kali ini, saya berbicara diksi. Diksi itu apa, sih? Bukan singkatan 'dikasih' ketika mengirimkan SMS, ya. Diksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:

dik·si n Ling pilihan kata yg tepat dan selaras (dl penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (spt yg diharapkan)
Nah, tersadarkah kita baik secara lisan maupun tulisan kita butuh bagaimana kata-kata yang tepat agar hal yang kita mau bisa tersampaikan dengan baik? Kalau kamu sering melontarkan kalimat seperti: 'Ah, gimana, ya, kalimatnya, biar pas, begitu?' Artinya, kamu sedang memikirkan diksi apa yang tepat agar sesuatu yang ingin kamu sampaikan bisa diterima dengan maksud yang baik pula. Itu dalam tulisan. Lain lagi dengan lisan. Kadang-kadang, otak agak saklek. Ngerti saklek? Saklek itu sama dengan bebal. Giliran tulisan dipikirin setengah mati tetapi giliran kita berbicara, mekanisme kita seakan diabaikan sehingga menimbulkan apa yang disebut sebagai: lepas kontrol.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa mulutmu harimaumu. Hei, jangan pikir pepatah ini hanya berlaku ketika berbicara. SMS itu perlu. SMS itu, 'kan, tidak berjenis kelamin, dan tidak berwujud. Tidak hanya SMS, tetapi juga segala bentuk tulisan, termasuk tulisan saya ini. Jadi kembali ke peribahasa... yak! Pikir itu pelita hati. Nggak usah dijelasin lagi, ya. 

Diksimu, harimaumu!

Kamis, 04 September 2014

Acibi (Ayo Cintai Bahasa Indonesia)!

Judulnya kampanye bingits, ya! Memang, judul ini dimodifikasi sedikit dari judul buku yang saya pakai ketika belajar bahasa Indonesia kala saya menginjak kelas 2 SD. Nah, judul bukunya kurang lebih sama-sama mengajak kampanye, yaitu Aku Cinta Bahasa Indonesia! Tapi, jangan pikir kalau belakangnya 'cibi' berarti saya akan membahas Cherrybelle and so on. Obviously, I will say no! Baiklah, yuk ikutan tes kecil ini untuk menguji seberapa cintakah kamu terhadap bahasa Indonesia. 


  1. Mana yang benar: 'provinsi' atau 'propinsi'?
  2. Mana yang benar: 'napas' atau 'nafas'?
  3. Mana yang benar: 'apotik' atau 'apotek'?
  4. Mana yang benar: 'menyontek' atau 'mencontek'?
Kalau sudah selesai dengan pertanyaan di atas, saatnya kamu harus mengerjakan tes kedua. Siap? 
  1. Padan kata yang tepat untuk headset adalah ...
  2. Padan kata yang tepat untuk copy-paste adalah ...
  3. Padan kata yang tepat untuk save adalah ...
  4. Padan kata yang tepat untuk online adalah ...

Jawabannya Adalah...

Nah, yuk kita cek jawaban yang tepat untuk dua tes di atas! 
Tes 1
  1. Provinsi. Kata ini menyerap province.
  2. Napas. Cek KBBI-nya, ya.
  3. Apotek. Taruhan, apakah ada apotiker?
  4. Menyontek. Kata dasarnya adalah 'sontek'. Imbuhan 'me-' akan luluh jika bertemu kata-kata dengan huruf depan k, t, s, dan p.
Tes 2
  1. Headset sekarang punya padan katanya, yaitu 'pelantang telinga' karena lagu yang kamu dengar dari gawai milikmu (baca: padan kata untuk gadget) akan bersuara lantang jika di telinga, 'kan?
  2. Copy-paste = 'salin-tempel'. Jadi, jangan pakai istilah co-pas lagi, ya. Cukup buat akronim saltem, meski agak rancu jika ketemu salam tempel. Karena pada hakikatnya akronim itu mengambil setiap suku kata.
  3. Save = amankan. Belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini. Saya juga heran, karena terjemahan aslinya 'simpan', sementara kalau 'aman' itu safe.
  4. Online = dalam jaringan (daring).
Nah, sekarang setelah kita bermain-main dengan tes-tes di atas, sekarang kita renungkan yuk, isi dokumen penting ini. 

SUMPAH PEMUDA
Kami, putra-putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Kami, putra-putri Indonesia, mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia.
Kami, putra-putri Indonesia, mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.


Berbahasa satu, bahasa Indonesia. Nah, sekarang, perhatikan kata 'bingits' yang saya gunakan. Kata itu merupakan bentuk peng-alay-an dari kata banget. Kata banget sendiri berasal dari kata sekali. Nah, apa salahnya, sih menggunakan kata sekali dalam percakapan sehari-hari? Dan juga bahasa-bahasa lainnya seperti keles, rempong, secara, dan lain sebagainya yang justru menimbulkan kerancuan dan keanehan dalam pemakaiannya. 

Agak menggelitik fenomena akhir-akhir ini, apalagi cewek-cewek fakultas saya yang sering menggunakan bahasa Korea jika diselipkan dalam percakapan. Selain itu, ada orang yang dengan bangganya menggunakan hangul (aksara Korea) ketika update memperbarui status akun facebook-nya. Apakah sebegitu repotnyakah bahasa Indonesia? Apakah sebegitu rusaknyakah bahasa Indonesia sehingga generasi kita tidak ingin memakai dan menggunakan bahasa Indonesia lagi sebagai bahasa pemersatu? 

Yuk, cintai bahasa Indonesia. Berbanggalah menggunakan bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia itu banyak memberi warna dan justru membuat tulisan dan tuturmu menjadi indah. :)

Rabu, 03 September 2014

Hack Sana... Hack Sini... Situ Hacker?

Pernah nggak mendapati status akun media sosial kita berisi kata-kata yang tidak menyenangkan? Pernah nggak mendapati BBM kita berisi kata-kata yang membuat orang yang tidak nyaman? Pernah nggak mendapati akun twitter kita dikomentari orang karena ketidaknyamanan status yang nggak kita tulis? Hayo! Jujur saja. Kan, dengan kejujuran akan timbul keberanian. Berani karena benar, takut karena salah! Nah, sekarang, pertanyaan berikutnya. Satu saja. Pernah nggak kamu pengin jahilin teman kamu dengan mengutak-utik akun media sosial teman Anda? Atau mungkin, karena sesuatu yang terpendam--kekesalan pribadi, misalnya? 

Berarti, you are hacked! Dan, buat yang usil, you are hacker! Hah? Pantas, dong, saya menghakimi kamu dengan sebutan hacker. Halo! Hacker tidak selamanya merusak sistem informasi dalam skala besar, tetapi dengan mengganggu ketentraman hidup seseorang, termasuk dengan mengutak-atik hal-hal mereka yang privasi itu sudah disebut sebagai hacker. Dan itu nggak sopan pakai bangetHacker adalah orang yang nggak sopan karena mereka menjajah tiga hal yang seharusnya mereka pikirkan sebelum tangan mereka usil mengutak-atik sesuatu.

Mereka mengganggu privasi kamu. Banyak status yang sebenarnya privasi, apalagi yang latah nulis panjang-panjang seperti saya, dan dilihat-lihat. Coba teliti frasa 'akun pribadi' pada akun media sosial kita. Apakah kita sudah mengerti arti kata pribadi? Nih, pengertian pribadi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

pri·ba·di n 1 manusia sbg perseorangan (diri manusia atau diri sendiri): kritik itu ditujukan kpd orang itu sbg ketua, bukannya sbg --; pendapat -- , pendapat sendiri, bukan pendapat orang lain; pengawal -- pengawal untuk diri sendiri; sekretaris -- , sekretaris untuk diri sendiri
Nah, garis bawahi manusia sebagai perseorangan (diri manusia atau diri sendiri). Berarti akun itu milik perseorangan, dong. Sepaham? Yuk, cus! Nah, kalau akun itu milik perseorangan, berarti akun itu dibuat untuk kenyamanan seseorang dalam berekspresi. Jadi, intinya dengan kamu hacking akun seseorang berarti kamu mengganggu kenyamanan seseorang dalam berekspresi di sosial media, dan respon orang akan berlainan. Ada yang hanya ketawa, dan menganggap kamu aneh, atau kalau mereka peka, mereka akan langsung menulis: Bro/Sis, you've hacked! Intinya: privasi, kenyamanan, dan respon.

Herannya, sekarang ini orang yang melakukan hacking dibilang hanya bercanda. Nah, kalau kamu berpikir lebih jauh tentang apa dampak hacking, kamu seharusnya mengerti. Kalau kamu bilang hacking sebagai gaya bercanda, berarti kamu punya selera humor yang rendah atau bahkan nggak punya selera humor sama sekali. 

Jadi, masih mau bercanda dengan mengutak-atik akun media sosial orang? Pikir lagi, deh :)

Kok Hemat-Hematan?

Kisah janda dari Sarfat adalah 'pengganggu' pikiran saya semalam. Tahu, 'kan, bagaimana kisahnya? Pesan moralnya adalah persembahan yang diberikan dengan tulus akan lebih diterima oleh Tuhan ketimbang banyak-banyak tetapi tidak rela. Namun, sulit sekali menemukan 'janda dari Sarfat' akhir-akhir ini, bukan? Bukan berarti perempuan, lho! Yang dimaksudkan dengan 'janda dari Sarfat' ini adalah orang-orang yang memberi dengan tulus hati. 

Nah, cerita saya hari ini berhubungan dengan cerita tersebut. Semalam, saya bertemu para penghuni kos-kosan Kania, yang kebanyakan adalah para wanita. Mereka bertanya tempat di mana saya bergereja--GPIB Tamansari. Dan, tahu tidak? Mereka merekomendasikan saya untuk bergereja di GKJ 55 (depan UKSW). Katanya gereja tempat saya beribadah itu jauh dibanding gereja di depan kampus. Oke, ini masih bisa saya terima. Dan, yang tidak bisa saya terima adalah alasan ini: hemat ongkos. *tarik napas* Kalau misalnya hemat ongkos itu tidak diimbangi dengan kekhusyukan beribadah (di sini saya tidak mengatakan bahwa ibadah di gereja saya itu khusyuk--semua tergantung kita), percuma saja bukan?

Selain cerita itu, saya sebenarnya ingin mengkritisi kebiasaan buruk saya sendiri yaitu: suka ngutang dan pelit. Memang ini kebiasaan menahun, malah kalau lagi parah-parahnya, saya suka ngutang berbulan-bulan dengan alasan pura-pura lupa. Pelit itu, kalau teman-teman bilang saya suka perhitungan.Lebih memikirkan kesenangan sendiri ketimbang kelangsungan hidup bersama atau pribadi. Intinya, daging yang berkuasa.

Nah, apa yang terjadi jika kita lebih mendengarkan suara daging daripada suara hati? Untuk setiap kita yang membaca artikel ini (juga saya), jangan pernah berpikir selamanya daging itu memanjakan dan membuat perut kita kenyang. Terlalu banyak makan daging bisa menyebabkan kolesterol, 'kan? Kalau misalnya daging itu menyebabkan jantung koroner dan penyakit-penyakit 'elite' yang biayanya juga 'elite', jero' juga! Kesehatan itu bukan hanya masalah badan sakit diberi obat langsung sembuh, tetapi juga kesehatan hati itu perlu. Hati sakit (bukan masalah cinta, lho!) juga perlu diobati. Jangan bilang kamu teringat lagunya Opick yang pertama kali membuat dia ngetop itu. 

Berhutang juga nggak baik, lho (peringatan juga kepada diri sendiri, ini, mah!). Berhutang terlalu lama juga membuat si pemberi utang itu memendam dongkol setengah mampus, ya nggak, sih?

Selasa, 02 September 2014

Bukan Tersesat tetapi Disiapkan Tuhan

Untung saya tidak berteriak di F5 tadi siang. Selain karena F5 adalah kantor fakultas (tahu sendiri, 'kan, bagaimana harus bersikap di kantor meski ada ruangan untuk Usda dan sebagainya?), lantai ini adalah tempat di mana mahasiswa FBS berkeliaran. Alasannya satu: homey. Berteriak memang tidak boleh di kantor fakultas, namun kenapa harus menyelipkan kata 'untung' di awalnya? Kalau di benakmu tersemat pertanyaan ini, maka kamu adalah seorang yang benar-benar peka. Sebab kenapa saya tidak berteriak (meski cuma tersentak 'ha?' dan itu masih dalam level pelan) adalah: saya kehilangan seseorang yang berharga. Om saya. Dia berpulang hari ini. 

Om saya menderita kanker lambung. Sepertinya, kanker lambung yang dideritanya adalah kanker lambung stadium akut meski sampai sekarang saya tidak mengerti karena belum diperiksa. Saat saya menjenguknya untuk pertama dan terakhir kali, dia mengajak saya berbicara. Di sana ada Tante, Mama, dan adik saya.
 "Christ, kapan balik ke Jawa?" tanyanya. Agak geli saya mendengarnya karena Pulau Jawa yang dimaksudkannya itu begitu luas, sementara karena terlalu nanar tatapan saya, saya tidak bisa membenarkan ucapannya itu. *ih, kok gini-gini masih peka akan kebahasaan, sih?*
"Tanggal 20, Amangboru," jawab saya. Amangboru adalah panggilan untuk om saya, karena dia adalah kakak ipar (sepertinya) dari Papa saya.
"Oh, baguslah. Amangboru sudah selesai operasi," imbuhnya. Saya berharap saya bisa bertemu dengan amangboru saya itu. Bapak Koiman Harianja. 
Menengoknya di rumah sakit adalah pembuka mata saya, dan sayangnya mata saya menatap dia dengan nanarnya. Dia bolak-balik berdoa keada Tuhan ketika ia merintih kesakitan. Dia juga sedang mengidamkan semangka saat itu. Namun, kanker yang dideritanya di lambung tidak membolehkannya untuk makan dan minum apapun. Makanan hanya didapat dari infus, sedangkan minumannya hanya didapat dari air yang dioleskan namboru saya di bibirnya. 

Ketika mendengar kabar mengejutkan ini di F5, hati saya (anehnya) tidak merasa hancur berkeping-keping. Benak dan hati saya mengatakan bahwa frasa 'balik ke Jawa' adalah sebuah pertanda. Dan benarlah, kala saya pergi untuk kembali ke Salatiga, hari ini, amangboru saya ikutan pergi. Ya, ikut pergi. Dan, Mama berkata bahwa jalan ini sudah disiapkan oleh Tuhan.

Tuhan sudah menyiapkan peta untuk setiap kita yang ada di bumi. Peta itu telah diberikannya kepada kita: tindak-tutur yang seharusnya mencerminkan bahwa kita ber-Tuhan. Menghindari larangannya. Ikuti jalan-Nya. 

 Di dalam dunia ada dua jalan: lebar dan sempit.
Mana kau pilih?
Yang lebar api, jiwamu mati.
Tapi, yang sempit, Tuhan berkati!
 (Talenta Singers - Di Dalam Dunia Ada Dua Jalan)

Ah, *seka air mata, lap ingus* ketika kita sudah mengikuti jalan-Nya, tinggal tunggu. Kita akan dijemput-Nya. :)

Senin, 01 September 2014

Dipecundangi Diri Sendiri

Pernah, nggak, sih, merasa dipecundangi diri sendiri? Dipecundangi diri sendiri itu maksudnya adalah ketika kamu merasa lemah dan terpuruk karena kesalahan yang kamu perbuat. Mau tahu? Saya sering. Banyak perbuatan yang membuat saya merasa terpuruk, dan kebanyakan karena kesalahan saya sendiri.

Banyak cap yang melekat pada diri saya selama dua belas tahun. Namun, yang paling permanen berada dalam diri saya adalah: saya tidak bisa menjaga rahasia orang lain. Lima menit seseorang menceritakan rahasianya kepada saya, maka saya akan membeberkannya sepuluh atau lima belas menit kemudian kepada orang lain. Sekali lagi, pertanyaan ini saya tanyakan kepada kamu. Masihkah kamu mau menyimpan rahasiamu yang paling dalam kepada saya? Untuk pertimbangan, silakan baca postingan saya sebelumnya di sini. 

Refleksi yang dalam menurut saya adalah: bagaimana saya (dan kamu yang pernah mengalami hal ini juga) harus mengontrol mekanisme pembukaan mulut ketika berkata-kata. Kembali, pikir itu pelita hati. Latah memang, manusia (termasuk saya) sering tidak memikirkan akibatnya sebelum tindakan itu terjadi. Bersyukurkah kita kalau Tuhan memberikan otak yang besar, dua telinga, dua mata, dan satu mulut? 

Otak besar berfungsi untuk berpikir dengan bijak dan masak-masak ketika memikirkan sesuatu. Dua telinga berfungsi untuk banyak mendengar dan memilah-milah mana yang nyata, dan mana yang cuma katanya. Dua mata untuk melihat kejadian yang pantas dilihat untuk direfleksikan oleh setiap kita yang membaca artikel ini. Dan, satu mulut berfungsi sebagai alat untuk mengontrol pembicaraan. Karena hakikatnya kita tidak boleh banyak bicara. Banyak bergerak. 

Ingat lagu ini, 'kan?

Hati-hati gunakan tubuhmu.
Hati-hati gunakan tubuhmu.
Allah Bapa di Surga melihat ke bawah.
Hati-hati gunakan tubuhmu.

Masih Manusia?

Sepertinya saya tidak bisa menahan emosi saya untuk hal ini. Tetapi, ketika saya meluapkannya kepada bidang-bidang yang lain, maka saya akan merasa lebih nyaman. Terima kasih kepada abjad, kata, frasa, kalimat, dan paragraf yang setiap hari saya rangkai. Kalianlah penawar emosi saya setelah motivasi sahabat terdekat.

Sesama manusia harus saling menghormati. Benar, 'kan? Itu apa yang dikatakan Bapak/Ibu Guru kita ketika masih menginjak kelas 1 SD. Nah, berhubung hari-hari ini banyak anak yang tidak mengindahkan nilai sopan santun dan budi pekerti, saya kira pembentukan karakter harus dimulai dari anak masih kecil. Ya, nggak, sih? Ini sedikit parenting, tapi memang benar-benar begitu adanya. Nah, salah satu bentuk dari ketidakhormatan sesama manusia adalah: ngrasani. Artinya: membicarakan orang dari belakang. 

Sekadar tahu, saya pluralis. Saya merasa sah dan tidak ada beban untuk menimba ilmu dari agama lain. Maka dari itu, tulisan hari ini terinspirasi dari khotbah Ustazah Qurotta' Ayunin dalam acara Taman Hati MNC TV yang memaparkan salah satu cabang iman: menghindari perkataan yang sia-sia. Semoga kamu masih betah membaca tulisan saya karena saya akan memaparkan isi khotbah yang ngeletek kering di kepala saya ini. Tahu, nggak, itu bermanfaat sekali, lho!

Omongan Itu Apa, Sih?

Bicara omongan/perkataan, kita pasti sering melontarkannya dalam hidup sehari-hari. Pertanyaannya, definisinya apa? Baiklah, definisi perkataan adalah suara yang keluar dan memberikan pengertian kepada orang lain. Berarti, kalau kita update status di akun Facebook/Twitter atau bicara dalam hati bukan omongan. Sepaham, ya? 

Kenapa Kita Menghindari Omongan Sia-Sia?

Omongan/perkataan sia-sia adalah ketika kita berbicara yang tidak bermanfaat, atau keadaan yang mengharuskan kita berhadapan dengan orang yang gagal paham. Jelas, it's kind of wasting your time! Nah, bentuk-bentuk omongan yang sia-sia itu ada banyak, lho! Salah satunya adalah membicarakan orang dari belakang (ngrasani). Nah, ngrasani dalam Islam sendiri dibagi menjadi dua, yaitu ghibah dan buhtan. Ghibah adalah menjelek-jelekkan kekurangan orang yang benar-benar ada, sedangkan buhtan adalah menjelek-jelekkan orang lain berdasarkan gonjang-ganjing orang, atau bahasa kita disebutnya: FITNAH. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan, karena secara langsung kamu membunuh perasaan dan harga diri seseorang dikarenakan fakta yang "dibuat-buat". Dan, saya mengalami sendiri.

Saya bukan meminta dikasihani di sini, tetapi, ada lho orang yang ngomong saya A, ngomong kalau saya itu B, dan lain sebagainya. Apalagi ngomongnya itu nggak kira-kira, seolah saya bukan manusia. Bagi mereka, saya adalah virus ebola yang harus dihindari. Manusia adalah makhluk terhormat. Lantas, dengan kehormatannya, manusia tidak boleh menginjak dan menurunkan harga diri manusia lain, seolah dia adalah yang paling atas dan yang dihina adalah orang yang paling nista.

Hmm... kalau kamu ketemu orang seperti itu, apa masih bisa, ya, disebut manusia?

Minggu, 31 Agustus 2014

Terlalu Cantik?

Berbicara masalah pria, definisi pria yang ada di benak saya adalah pria yang begitu macho, dengan otot-otot yang berlomba menyembul keluar dari bajunya, abs yang mencoba menampakkan keindahannya, ketampanan dan mata bak elang, jambang yang mengitari dagunya, berkumis (tipis), dan perilakunya yang begitu gentle. Kalau perlu, bertato sekalian! Pasti kalian mengidamkan pria sesempurna itu. Ya, kan, ladies? Mengakulah!

Tetapi, akhir-akhir ini, cewek-cewek fakultas saya terobsesi dengan pria-pria yang berasal dari Negeri Ginseng dan Negeri Gajah Putih. Putihnya kulit yang dipadu dengan semburat feminim dari wajahnya, hidung mancung, senyum yang (kalau bisa) menimbulkan lesung pipit dari wajahnya. Bahkan, mereka tak ubahnya wanita asli. Persis wanita. Pria-pria Korea seperti Kim Hee Chul, Onew 'SHINee', dan lain-lain mungkin adalah idaman banyak wanita di dunia. Sepertinya, jika para wanita itu mendapati salah satu dari idola mereka menyatakan cinta, mereka tak ubahnya Cinderella yang berubah nasib. Logika! Siapa wanita yang tidak mau bersuamikan pria tampan idaman mereka?

Rupanya, tidak usah jauh-jauh. Indonesia juga punya banyak spesies seperti ini. 'Makhluk' ini diberi nama: cowok cantik. Ya, seperti apa yang saya paparkan di atas, definisi cowok cantik adalah lelaki tampan yang punya gurat feminim dalam parasnya. Biasanya, cowok-cowok seperti ini mirip ibunya. Ya, nggak, sih? Biasanya, lho! Jadi, nggak semuanya, 'kan? 

Nahasnya nasib cowok-cowok ini adalah, mereka disangka gay. Padahal, bukan maunya mereka punya wajah-wajah bergurat feminim itu, bukan? Bukan maunya! Sebab, cowok-cowok fakultas saya bernasib demikian. Salah satu materi stand up comedy yang pernah saya dengar saat welcoming service 2013 dulu mengatakan kalau cowok-cowok fakultas saya (Bahasa dan Sastra) tidak mau kalah cantik dengan cewek-cewek. Harus saya akui, ketika mereka berdandan mereka jauh lebih cantik daripada wanita. Tetapi, apakah dengan image seperti itu orang-orang lantas mengejek cowok cantik itu dengan sedemikian kejamnya? Mereka juga punya hak disebut gentlemen!

Soimah pernah bilang, "Makanya, jadi cowok jangan terlalu cantik!" Justru, saya tidak menyetujui pendapat itu. Bukan maunya mereka memiliki wajah terlalu cantik dalam paras mereka. Mereka berhak dibilang pria sejati

Menjadi Feminis

Ku wanita. Ku punya harga yang tak mampu kau punyai.
Karena ku hanya mau dihargai. Ku wanita. Ku wanita.
(Siti Nurhaliza, Aku, diambil dari album Fragmen-2014)


Wanita. Sosok yang diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tugas lawan jenisnyalah yang harus membimbingnya perlahan menuju jalan lurus. Jangan memaksakan tulang rusuk yang bengkok itu menjadi lurus. Jika demikian, maka patah adalah konsekuensi yang harus ditempuh. 

Saya pria, namun saya bangga menjadi feminis. Jangan pernah katakan saya transgender, karena saya memang mengerti perasaan seorang wanita dari luar dan dalam. Saya punya teman wanita dan jumlahnya lebih banyak daripada teman pria. Saya menyukai segala sesuatu yang berbau wanita, seperti tata busana. Bukan berarti saya harus memakai blush on, maskara, dan lain sebagainya seperti gadis yang hendak mangkal di tempat lelaki-lelaki usil mengasah kemampuan kejantanannya. Atau dengan kata lain, wisata selangkangan. Lebih bejat lagi laki-laki yang ingin menggunakan cinta yang asali dari-Nya itu hanya untuk mencicipi setiap jengkal tubuh lawan jenisnya saja. Ketika mantra 2159 (dua tubuh jadi satu selama lima menit untuk sembilan bulan) telah mencapai puncak kesaktiannya, maka mereka akan saling menyalahkan. Saya juga peduli terhadap beberapa isu wanita, makanya saya berterima kasih kepada Mira W., Maria A. Sardjono, dan Alberthiene Endah. Juga segudang novel metropop yang saya gemari yang juga mengetengahkan isu-isu wanita dewasa-muda masa kini. 

Saya pria, namun saya bangga menjadi feminis. Saya sering menaruh kasihan dan rasa iba terhadap hal-hal percintaan sederhana yang memojokkan wanita dan mencabik-cabik perasaan. Justru, sayalah yang akan menghajar dan mengoceh (bahkan merajam) sahabat dekat saya (wanita, tentu!) yang tersakiti akibat kelakuan sang pria yang entah mengapa selalu kehabisan akal untuk membuat kisah mereka berdinamika.

Saya pria, namun saya bangga menjadi feminis. Saya sering menaruh kasihan pada wanita yang kehilangan 'mahkota'-nya sebelum saat yang tepat itu tiba. Makanya, saya paling benci melihat cewek-cewek agresif yang tangannya patroli ke sana-ke mari (cowok-cowok juga) untuk mendapatkan kehangatan. Hangat bukan berarti harus bersentuhan dan berpegangan tangan, bukan? Definisi hangat sesungguhnya adalah nyaman dan saling mendukung ketika bersama mereka. 

Saya pria, namun saya bangga menjadi feminis. Saya menaruh salut kepada wanita-wanita pejuang yang karena alasan tertentu harus berjuang memeras keringat agar bisa menghidupi anak-anaknya (contoh: pembantu kos-kosan saya yang kini sudah berambut dua). 

Selamilah dunia wanita sedalamnya. Pahami lawan jenis kita, karena mereka diciptakan untuk saling melengkapi.

Saya bangga menjadi feminis, kamu?

Rahasia

Pengetahuan adalah sesuatu yang mutlak dan perlu di dunia ini. Namun, tidak semua pengetahuan perlu diserap karena mungkin ada sesuatu yang sifatnya misteri. Ya, itulah rahasia. Wahai, apakah kamu tahu bagaimana isi buah terlarang dan rasanya--ya, buah terlarang yang itu. Yang singgah di Taman Eden. 

Saya masih bertanya dalam banyak hal, termasuk permasalahan yang juga masih membenak hingga mengerak dalam otak saya. Mengapa di dunia ini harus ada rahasia? Dan, mengapa rahasia itu tidak boleh diberitahukan kepada orang lain, apalagi yang mulutnya tak ubah seperti ember berangka (baca: ember bocor)? 

Dalam banyak-banyak hal, memang saya tidak bisa menjaga rahasia, apalagi rahasia dari orang yang sangat saya benci. Saya harus mengakui bahwa bibir saya tak ubahnya ember yang bocor. Tetapi, apa, sih, pentingnya berahasia-rahasiaan dengan saya? Toh juga, nangka busuk bila disimpan di dalam tanah sekalipun akan tercium baunya. Itulah pengakuan saya, semoga kamu masih mau menitipkan rahasiamu kepada saya. 

Lalu, bagaimana harus menjaga rahasia, meskipun pada saatnya rahasia itu akan terbongkar? Caranya, tak ada yang lebih baik selain menahan dirimu--tepatnya, mulutmu. Tahanlah mulutmu untuk tidak menceritakan hal-hal yang tidak semestinya diketahui oleh banyak orang. Oleh karena itu, penting hukumnya mencamkan dalam otak: pikir itu pelita hati. Kalau bahasa anak sekarang, berpikirlah sebelum bertindak. Tuhan mengaruniakan kita otak yang fungsinya tak lain dan tak bukan adalah untuk berpikir. Berpikirlah untuk melakukan perbuatan yang semestinya, seturut-Nya. 

Rohani sekali, ya. Tapi, itulah yang semestinya. :)

Sabtu, 30 Agustus 2014

Belok

Orientasi seks. Baiklah, *tarik napas* saya akan membicarakan sesuatu yang menurut saya paling sensitif bagi setiap orang. Untunglah, saya punya bekal yang cukup untuk membahas masalah ini: novel-novel yang mengetengahkan masalah serupa.

Sebenarnya, ini berawal dari ketidaknyamanan saya atas beberapa orang yang memiliki 'gangguan asmara'. Gangguan asmara di sini bukan berarti menyendiri, lho. Cuma, ini masalah 'doyan'. Jijik, sih, menyelipkan istilah 'doyan' ketika berpacaran ketika ada yang mengajak ngobrol begini:

"Woy, lo doyan sama cewek atau cowok?"
Baiklah, ini sedikit mengganggu. Dari pilihan katanya saja sudah demikian. Pertanyaannya, apakah orientasi seks itu semacam makanan/minuman layaknya lotek, es buah, cappuccino cincau, dan sebagainya. Oke, langsung saja ke intinya.

Suatu hari saya melihat status facebook dari seorang teman dekat saya. Orang tuanya berkata homoseksualitas itu bagaikan: "dia berambut hitam, dan saya berambut pirang". Artinya, mereka 'berbeda' dari kita. Namun, adat-istiadat orang timurlah yang menyebabkan homoseksualitas itu sesuatu yang ditentang. Bahkan, agama pun melaknatnya: semua! Sejak dahulu, Tuhan menciptakan Adam dan Hawa (Adam dan Eve). Tuhan tidak menciptakan Adam dan Steve, apalagi Hawa dan Hani. Alasan logisnya, (maaf agak frontal) apakah laki-laki memiliki rahim dan vagina? Bisakah vagina dan vagina membuahkan anak meski perempuan itu berahim? 


Tetapi, sekali lagi, itu adalah jalan hidup mereka. Apakah mereka terjerumus dalam lubang hitam itu karena pelecehan orang-orang terdekatnya, atau karena gen mereka (ada, lho, hipotesis demikian, entah siapa yang berkata...). Namun, jangan pernah menghakimi homoseksualitas dari tinggi jari tengah dan jari manis, sebab, that's kind of illogical


Di satu sisi, saya menyetujui gaya mereka bercinta (meski agak sadis). Sekali mendapatkan seseorang yang menurut mereka menarik, mereka akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan mereka sampai titik darah penghabisan (baca: setia dijunjung tinggi!).


Lalu, mengapa kita menganggap mereka sebagai sebuah 'virus' atau 'penyakit' yang harus dibasmi? Mereka juga butuh pengakuan dari masyarakat. Mereka juga butuh bersosialisasi. Mereka juga ingin berkiprah dan berkarya. 



Sasaran Pembelokan

Nah, untuk kamu yang sering menjadi sasaran pembelokan, kamu harus mengetahui bahwa kaum-kaum seperti mereka menyukai sesamanya yang menurut mereka 'menarik'. Dan mereka bangga dengan memiliki kekasih yang berwajah menarik, otomatis mempertahankannya setengah mati. Lalu, bagaimana cara menghindari menjadi sasaran pembelokan? Caranya satu. Tunjukkan kemesraanmu (meski ini agak norak tapi memang ini cara satu-satunya yang manjur). Serius :)

Nah, jangan jauhi gay atau lesbian. Namun, jangan juga terjerumus ke dalamnya. Belok atau lurusnya kamu tergantung siapa guide-mu :)

Jumat, 29 Agustus 2014

Inagurasi Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana

Untuk pertama kalinya (tentunya setelah mematut-matut diri di depan cermin rumah mereka), seluruh mahasiswa baru UKSW 2014 memakai jas almamater hari ini dalam Malam Inagurasi Mahasiswa UKSW 2014. Sementara, rangkaian terakhir Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) adalah pada saat dilaksanakannya pawai budaya. Bicara masalah OMB, saya punya kenangan-kenangan manis, dan ini adalah dua kenangan yang paling ngena menurut saya. 

Pertama, menjadi narasumbernya BTSI. Untuk hal ini, memang saya akui saya menjadi mahasiswa kenamaan saat Biro Teknologi dan Sistem Informasi (BTSI) meminta saya untuk menjadi narasumber dalam video OMB. Saat itu, mereka meminta saya menjawab dua pertanyaan, setelah itu meminta saya menyanyikan Mars Satya Wacana. Dan, benarlah. Dikarenakan kurangnya persiapan, saya hanya bisa memberikan banyak jeda (baca: eee...) dalam setiap pertanyaan saya. Sejak saat itu, saya menjadi pusat perhatian mahasiswa. Bahkan, ada orang yang bilang, "Ini bukannya orang yang di video OMB itu?" atau "OMB itu..." *ashamed* Baiklah, ini nggak usah dibahas lebih lanjut :)

Kedua, berpisah di Jembatan Kemiri. Inilah yang paling menyentuh dan saya harus mengingat hal ini kembali, malam ini. Masa-masa setelah Orientasi Mahasiswa Baru membuat saya harus tegar berdiri untuk menyelesaikan masalah saya sendiri. Teringat, saya harus berpisah dengan Mama di sana. Dan dia berpesan agar saya harus belajar dengan baik agar membuat Mama bangga. Rupanya, ketegaran saya diuji. Masalah yang dihadapi tidak sebesar kacang tanah. Mulai masalah relasi sampai masalah adaptasi yang tak kunjung selesai dengan kampus--lebih tepatnya, fakultas. Saya tidak mungkin menyelesaikan masalah demi masalah ini sendiri. Saya tidak boleh menyombongkan diri. Saya masih butuh Tuhan dan teman-teman untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada. I'm not Christian Paskah The Almighty! Caranya: anggap orang terdekat denganmu adalah keluargamu. Ya, keluargamu. Pergaulanmu juga menentukan siapa kamu di perantauan. 

Intinya, kita datang ke sini (baik teman-teman yang datang dari Pulau Jawa atau luar Pulau Jawa) untuk merentang masa depan. Kita tidak boleh bermain-main dengan yang namanya kuliah, karena kuliah adalah menimba ilmu. Ilmu itu penting untuk bekal kita ke depannya.

Setelah ilmu, soft skills juga penting. Tahu sendiri, 'kan, alasannya?