Pengetahuan adalah sesuatu yang mutlak dan perlu di dunia ini. Namun, tidak semua pengetahuan perlu diserap karena mungkin ada sesuatu yang sifatnya misteri. Ya, itulah rahasia. Wahai, apakah kamu tahu bagaimana isi buah terlarang dan rasanya--ya, buah terlarang yang itu. Yang singgah di Taman Eden.
Saya masih bertanya dalam banyak hal, termasuk permasalahan yang juga masih membenak hingga mengerak dalam otak saya. Mengapa di dunia ini harus ada rahasia? Dan, mengapa rahasia itu tidak boleh diberitahukan kepada orang lain, apalagi yang mulutnya tak ubah seperti ember berangka (baca: ember bocor)?
Dalam banyak-banyak hal, memang saya tidak bisa menjaga rahasia, apalagi rahasia dari orang yang sangat saya benci. Saya harus mengakui bahwa bibir saya tak ubahnya ember yang bocor. Tetapi, apa, sih, pentingnya berahasia-rahasiaan dengan saya? Toh juga, nangka busuk bila disimpan di dalam tanah sekalipun akan tercium baunya. Itulah pengakuan saya, semoga kamu masih mau menitipkan rahasiamu kepada saya.
Lalu, bagaimana harus menjaga rahasia, meskipun pada saatnya rahasia itu akan terbongkar? Caranya, tak ada yang lebih baik selain menahan dirimu--tepatnya, mulutmu. Tahanlah mulutmu untuk tidak menceritakan hal-hal yang tidak semestinya diketahui oleh banyak orang. Oleh karena itu, penting hukumnya mencamkan dalam otak: pikir itu pelita hati. Kalau bahasa anak sekarang, berpikirlah sebelum bertindak. Tuhan mengaruniakan kita otak yang fungsinya tak lain dan tak bukan adalah untuk berpikir. Berpikirlah untuk melakukan perbuatan yang semestinya, seturut-Nya.
Rohani sekali, ya. Tapi, itulah yang semestinya. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar