Ini refleksi yang saya dapatkan beberapa jam lalu, setelah saya menjadi pengisi acara dalam sebuah mini konser bernuansa rohani yang diselenggarakan oleh salah satu gereja di Salatiga. Saya tergabung dalam grup vokal etnis Batak yang diberi nama Batak Plus. Batak Plus ini sendiri berarti percampuran antara orang Batak dan orang non-Batak yang menjadi anggota dalam vokal grup tersebut.
Kami tampil dua kali. Pertama dengan lagu Kaulah Harapan yang dinyanyikan dalam dua bahasa, Batak dan Indonesia, dan Arbab, ciptaan Dr. Bonar Gultom (Gorga). Katanya, sih, kalau belum menyanyi lagu ini, ke-Batak-annya dipertanyakan. Inilah pertanyaan pertama, apakah status suku Batak itu timbul ketika kamu selesai menyanyikan lagu yang memang melegenda ini? Bukan saya menghina si pencipta lagu dan keseluruhan lagu, tetapi ini mungkin yang disebut sebagai stereotip. Mungkin, ya. Kalau salah, mungkin bisa dikoreksi.
Yang kedua, ketika prosesi pemberian kenang-kenangan diberikan. Sebenarnya, ini yang membuat saya benar-benar pengen nggrundel di depan orang yang nyuruh saya buat maju. Ini namanya keterpaksaan. Tetapi, toh age gap yang timbul antara saya dengan orang yang menyuruh itu justru lebih banyak. Nggak apa-apalah. Namanya aja menghormati, meski dalam hati nggrundel sendiri.
Di panggung Recital Hall UKSW, justru inilah yang membuat saya berpikir. Apakah saya seorang banci tampil yang hobi mendengar sorak-sorai yang tidak jelas, apakah itu memang tujuannya bullying atau tidak? Kalau, ya, saya sungguh merasa menjadi orang yang bodoh di dunia. Namun, jika dipikir-pikir, apakah para artis yang berseliweran di televisi itu bukanya satu dari sekian banyak banci tampil yang sering nangkring di lingkungan mereka? Satu hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah: saya bukan calon artis, dan saya tidak ingin dan tidak akan berminat menjadi seorang artis. Terlepas dari pernyataan itu, banyak pertanyaan yang memang berseliweran di benak saya. Kalaupun saya bukan artis, kenapa banyak orang meminta saya untuk tampil meski keroyokan dalam paduan suara, tampil untuk pelayanan di Gereja, tampil untuk jadi penari di IICF sebulan lalu, dan sebagainya?
Kata orang, saya maskot. Toh, apa maksud dari kata maskot itu? Setahu saya, untuk menjadi maskot dari sesuatu hal, saya setidaknya harus menjadi teladan dan tidak ada cacat dan cela yang menghinggapi saya, karena definisi maskot sendiri adalah wakil yang nantinya akan membawa keberuntungan atau keselamatan. Apa yang membuat orang lain berpikir bahwa saya membawa keberuntungan? Dari sisi mana, dan hal apa itu?
Justru, refleksi saya yang ini yang punya jawaban yang benar-benar njelimet. Saya pantas tampil, nggak, sih? Yang kedua, kalau keseringan tampil pun, apakah saya benar-benar seorang banci tampil? Toh panggung adalah tempat berekspresi setiap orang bukan?
Hah, dunia. Selalu saja memberikan pertanyaan nggak perlu tetapi jawabannya nggak perlu susah-susah juga buat diketemukan -_-