Sabtu, 21 Februari 2015

Sopan Santun (yang rupanya) Masih Ditegakkan

Notification akun Facebook saya berbunyi dan menyatakan, "Komisi Advokasi FBS-UKSW mengajukan sebuah pertanyaan". Rupanya hari ini mereka mengajukan pertanyaan seputar Standar Operasional Bersikap Mahasiswa di Lingkungan Kampus. Setelah melihat delapan pertanyaan dalam bentuk kuesioner di Facebook, saya mengajukan pertanyaan dalam diri saya sendiri: sebegitu tidak sopannya kah mahasiswa fakultas kami sehingga diperlukan semacam standar bersikap? 

Sepertinya saya harus berkaca pada salah seorang teman saya yang berkata bahwa fakultas kami terlalu bebas. Benar adanya. Masalah berpakaian saja tidak diatur, sampai teman saya menanyakan, "Christ, lo ke kampus boleh pakai kaus beginian?" Dari situ saya berpikir. Fakultas lain, seperti FEB misalnya, tidak mengizinkan mahasiswa-mahasiswinya untuk berpakaian seperti kami-kami ini di kampus. Tetapi, ada juga beberapa fakultas yang 'melonggarkan' peraturan berpakaian ini. Padahal, dengan berpakaian sopan, seseorang akan memahami dan mengetahui bagaimana menghargai dirinya sendiri. Membiasakan berpakaian sopan akan menimbulkan 'sesuatu' yang disebut wibawa. Ketika wibawa timbul dari dalam diri, pastilah sikap sopan akan datang. Namun, rupanya keserampangan cara berpakaian masih terjadi, khususnya di fakultas kami. Sekarang, pantaskah seseorang memakai kaus tanpa lengan, rompi jeans, dan jeans atau legging ketat di lingkungan pendidikan? 

Beginilah usulan-usulan itu.

  1. Siswa tidak diperkenankan untuk mengikuti kuliah apabila terlambat lebih dari 15 menit. Kenyataannya: banyak dosen yang 'berbaik hati' dengan memberikan kesempatan mahasiswa itu berkuliah tetapi tidak menandatangani absen. Bagi saya kedua hal ini sama saja. Sama-sama tidak mengikuti kuliah, bedanya yang tertulis di peraturan mahasiswa benar-benar tidak masuk dan tidak menandatangani absen, sedangkan yang satu masih dapat ilmu tetapi dianggap tidak ada. Nah, karena saya suka terlambat dan harus bisa menghargai waktu, saya nyatakan setuju untuk peraturan ini. Karena, menurut saya pribadi, dengan datang terlambat berarti kita tidak bisa mengatur waktu dengan baik.
  2. Siswa wajib mengikuti perkuliahan paling sedikit 80% dari total pertemuan selama satu semester kecuali apabila mahasiswa sakit berat, dengan keterangan dokter mahasiwa diperbolehkan absen dari perkuliah sampai dengan 40% dari total pertemuan selama satu semester.
    Kalau yang ini, saya setuju. Sangat setuju, malah. Tetapi, kalau ada sebagian orang mengatakan bahwa kita punya 'hak membolos', itu adalah sebuah hal yang tidak mendidik menurut saya. Adanya istilah 'hak membolos' itu malah memancing rasa malas. Padahal, apalagi yang datang dari luar Pulau Jawa, sudah jauh-jauh dan dibiayai orang tua tetapi kita tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik. Mau apa ketika di telepon ditanya: "Kamu nggak kuliah?" Harus cari alasan kelas kosong, dosennya berduka, atau ... segudang alasan meyakinkan yang sebenarnya nggak mutu?
  3. Selama perkuliahan siswa tidak diperkenankan menggunakan gadget, kecuali dosen mengijinkan penggunaannya.
    Nah, sepertinya semua mahasiswa harus menyadari bahwa negara kita adalah negara berkembang yang masih 'diperbudak' teknologi, tidak menggunakan teknologi dengan baik. Apakah manfaat yang diambil dari sebuah teknologi yang seharusnya baik tetapi digunakan sebagai sarana menyontek?
  4. Mahasiswa tidak diperbolehkan untuk membawa dan/atau mengkonsumsi makanan di dalam kelas. Jika mahasiswa melanggar dosen berhak untuk memberi teguran pertama, teguran kedua, dan meminta mahasiswa tersebut untuk meninggalkan ruang kelas jika mahasiswa tersebut tidak mengindahkan teguran pertama dan kedua. Kalau yang ini, sudah jelas. Gunakan waktu makanmu sebaik mungkin dalam porsi kenyang, ya. :)
  5. Mahasiswa tidak diperkenankan mengenakan celana pendek dan sandal jepit pada saat bertemu dengan dosen di dalam maupun di luar kelas. Jelas. Intinya seperti yang sudah saya sampaikan: belajar menghargai diri sendiri.
Nomor 6, 7, dan 8 itu lebih ke arah sopan-santun ke dosen dan menjaga kebersihan. Kalau untuk tiga nomor itu, sebenarnya sudah tidak perlu diingat-ingatkan lagi. Lebih ke arah kebersihan. Pelajaran Budi Pekerti dan PKn sebenarnya sudah menyatakan hal tersebut secara jelas malah. 

Jadi, yang ingin saya sampaikan di sini adalah peraturan dibuat untuk dipatuhi. Efek positif dari peraturan itu sendiri adalah agar dapat menghargai diri sendiri dan lingkungan karena tidak semua lingkungan menoleransi kebebasan. :) 

Senin, 16 Februari 2015

Kantoi!

Pagi ini, saya mengerjakan tugas dibarengi dengan mendengarkan lagu Kantoi karya seorang penyanyi Malaysia yang menurut saya genre musiknya sealiran dengan Lenka, Lily Allen, Yuna--pokoknya saya suka lagu-lagu beraliran seperti ini. Lirik sederhana tetapi menyampaikan pesan yang konkret dan mudah diterima. Lagunya menceritakan tentang dua orang, pacarnya si tokoh utama dan si tokoh utama yang saling selingkuh. Yang satu ketahuan selingkuh di akhir, yang satu lagi menghindar dari masalah besar yang menimpanya--ya, selingkuh lah! Oh, ya. Kantoi = ketahuan/gotcha!

Sekarang, mari kita kaitkan dengan kehidupan kita sehari-hari. Masih nginjak bumi, kan? Nah, ada beberapa situasi dalam kehidupan kita di mana kita bakalan kedapatan suara seperti 'gotcha!'. Yang pasti, itu terkait dengan ketidakjujuran kita. Berbicara masalah ketidakjujuran, pastilah hati nurani kita ikut berbicara. Entah dengan berkeringat segede-gede jagung, mata yang berkaca-kaca, ngomong pendek-pendek (bahkan nggak ngomong sama sekali!), dan pertanda-pertanda yang lainnya. Dalam, ya, pesan lagu ini? Meski temanya sederhana, tentang cinta dan segala hal yang membelitnya, kita juga melupakan satu hal yang penting: hati nurani.

Hati nurani? Pastilah kita sering mendengarkan istilah ini. 'Hati nurani lo di mana?' atau 'Pake hati nggak sih lo?' Mungkin, kita bisa mendefinisikan hati nurani sebagai 'hati kecil' atau bagi kamu yang suka nggombal akan mendefinisikannya sebagai 'lubuk hati yang terdalam'. Ngaku! Ketahuan kan yang hobi ngebohongin cewek dengan sejuta kata yang menyesakkan hati? *halah!* Nah, hati nurani ini juga kecil-kecil cabe rawit. Kalau kita kedapatan mendengarkan sesuatu yang bertentangan dengan nilai moral yang terinternalisasi dalam diri kita, kita pasti akan merasakan diagnosis di atas tadi. Kalau kita merasakan apa yang didiagnosis tadi, kita masih normal. Tetapi, kalau sudah tidak lagi, berarti pertanyakan dirimu. Melawan hati nurani = melawan suara Tuhan. Bukan saya mau khotbah di pagi harimu, tetapi yuk coba kita pikirkan matang-matang. 

Masihkah kita mengingkari kalau kita selalu gelagapan saat melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral? Kalau kita masih mengingkarinya hingga sekarang, jangan sampai hati kita menjadi mati. Kalau hati nurani sudah mati, saya nggak tahu deh mau jadi apa ujung-ujungnya. Kantoi!

Minggu, 15 Februari 2015

Ra Tau Isin

Siang ini, saya akan menceritakan perasaan saya yang sejak Sabtu kemarin, atau saat Valentine tepatnya, sangat berkecamuk. Maklumlah, jomblo dengan kondisi mengenaskan seperti saya, ketika merasakan yang namanya jatuh cinta akan mengalami overdosis yang sangat hebat. Maksud saya, saya akan menginginkan kehadirannya setiap hari, meskipun ketika mendengarkan namanya saya akan menggelinjang kesenangan setengah mampus kalau tidak ada *ya, kali, ya, kalau bisa menggelinjang di atas tanah!*.

Sepertinya saya harus berterima kasih kepada ketiga sahabat saya--dua teman seangkatan dan satu kakak tingkat--untuk mengenalkan saya kepada sebuah band indie lokal Salatiga (dan saya harus akui, band indie lokal Salatiga lebih kece ketimbang band indie kota saya sendiri, Lampung!) bernama Vexia. Sepertinya saya pernah mendengarkan nama ini sebelumnya Tetapi, batang-batang hidung orang-orangnya seperti apa saya jelas nggak bisa mengetahuinya. Ya, kan? Nah, keberjasaan ketiga sahabat saya inilah yang membuat saya menjadi ngefans setengah mampus. Seperti yang saya perkirakan, saya akan ngefans sama band ini. You know me, saya terkadang terkena sindrom-menjadi-feminim. Ini diakibatkan vokalisnya yang punya ketampanan di atas rata-rata dan auranya yang sanggup membelenggu gadis-gadis. Yang membuat saya terkejut lagi, dia cowok Ambon manise yang membuat saya benar-benar tidak memercayai kalau dia cowok Ambon! Apa yang tidak lebih menggiurkan dengan postur tubuh yang tinggi dan tegap, kulit putih terawat, mata yang menarik, dan lain sebagainya (yang jelas saya berubah feminim ketika melihat dia!).

Tetapi yang ingin saya ceritakan di sini adalah: sikap ngefans saya yang terkadang nggak tahu malu. Berani nge-chat si doski ketika dia online dengan chat-chat yang nggak jelas (tips: ini salah satu cara buat ngelatih mental, meski nanti bakalan ditanya "Kowe ra tau isin, yo?"), sampai yang paling wajar adalah ketika dia berulang tahun. Memberanikan diri, saya mengirimkan pesan kepadanya lewat Facebook. Bodohnya, saya bangga dibilang ra tau isin. Pertanyaan saya: agresifkah saya?

Sering saya merasa demikian kepada orang yang punya sedikit 'kelebihan', khususnya di bagian fisik. Sampai-sampai, orang ngira kalau saya ini ganjen, menthel, lenjeh, dan lain sebagainya. Sampai teman satu kos saya mengingatkan saya bahwa kalau ngefans itu mesti tau isin (baca: tahu malu dan batas) karena kita nggak bisa keluar dari batas. Kita sebagai fans itu seperti terkurung dalam sangkar. Sekalinya perasaan kita berubah, kita akan dianggap aneh oleh orang sekitar. Memang, menjadi secret admirer adalah dilema.

Minggu, 08 Februari 2015

Ketika Media menjadi Perusak

Baiklah. Mari kita mematikan televisi dan menggunakan kekuatan remote kita dan memulai cuap-cuap kita siang ini. Dunia di abad ini tidak pernah jauh dari sorotan layar kaca. Lihat, sinetron de-te-be-el (dan tetek bengek lainnya) sudah menguasai setengah dari kehidupan kita. Sehingga, jangan heran kalau jargon-jargon meleteknya Syahrini seperti ciao bella dan lain sebagainya itu melekat dalam benak masyarakat. Selain jargon Syahrini, jargon "o-em-ji helo" dari Prilly Latuconsina (Ganteng-Ganteng Seringgila Serigala) itu juga lagi sering diucapkan oleh teman saya. Juga tak bisa lagi ditampik bahwa adegan-adegan romantis ala sinetron dan FTV itu kini dikhayalkan oleh anak-anak remaja untuk dilakukan. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan masyarakat kita sampai banyak tayangan-tayangan yang distop Tramtib KPI?

Siapa yang dari kita tidak merindukan kehadiran sinetron dengan kualitas seperti Keluarga Cemara? Sinetron yang mengetengahkan nilai-nilai moral dalam keluarga ini adalah salah satu sinetron yang diharapkan kehadirannya oleh masyarakat yang sedang dirajai oleh kehadiran sinetron Tukang Bubur Naik Haji, Diam-Diam Suka, Manusia Harimau, dan lain sebagainya. Kok saya tahu? Gini-gini saya mengakrabi dunia televisi dan segala sesuatu di baliknya. Tetapi, saya butuh tayangan yang benar-benar mendidik. Sinetron yang mengetengahkan bagaimana seharusnya remaja-remaja di dunia ini survive dengan menggunakan tingkah laku yang diwariskan zaman ke zaman. Bukan dengan mengetengahkan peluk-pelukan di sekolah, mandi pakai baju renang yang aduhai, dan lain sebagainya.

Selain sinetron, rupanya lagu-lagu sekarang juga ikut-ikutan merusak generasi muda, apalagi anak kecil. Bayangkan, betapa mirisnya ketika anak kecil menyanyikan lagu-lagu berbau dewasa dan romansa, sementara mereka belum boleh bahkan tidak dibolehkan untuk mengecap manisnya cinta yang seperti itu. Telinga siapa yang nggak sakit ketika mendengar anak kecil nyanyi lagu Pergi Pagi Pulang Pagi daripada Lihat Kebunku atau Pok Ame-Ame

Satu hal lagi, media adalah instruktur plagiarisme yang 'paling nyata'. Bayangkan saja, berapa banyak lagu dan program televisi yang telah diplagiasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hingga, semua ini berujung pada sebuah kenyataan bahwa kita tidak menyukai produk sendiri karena kurangnya kreativitas dan lebih mengacu kepada uang dan rating. Tidak mementingkan bagaimana acara televisi dan lagu-lagu itu harus menjadi sebuah hal yang semestinya mendidik kita.

Media, dengarkanlah. Janganlah eksistensimu malah merusak kami sebagai generasi muda. Perhatikanlah, dan tunjukkanlah kreativitasmu untuk membina kami agar kami dapat menjadi setara dengan orang-orang lain. Tidak hanya plagiarisme, tidak hanya mementingkan uang.

Wafat: Sebuah Luahan Rasa yang Memberatkan

Barusan, saya baru menerima kabar bahwa Bapatua saya telah wafat. Dan ini adalah mengejutkan secara tidak ada firasat apapun yang menggambarkan kepergian Bapatua yang saya sayangi ini. Beliau telah tidur tenang di sana berbungkuskan baju sintua (pelayan gereja, seperti penatua/diaken) berwarna merah-putih. 

Namun, setelah melihat foto itu, benak saya tergambar sebuah pemandangan mengerikan. Saya wafat dengan menggunakan jas dan... saya tidak ingin menyebutkannya lagi karena saya sangat merasa ngeri dan ngilu melihat pemandangan saya yang menyeramkan itu. Tetapi, ada satu hal yang ingin saya pertanyakan: akankah orang-orang akan merasakan kehilangan ketika saya hilang?

Berat perasaan saya untuk menuliskan perasaan saya ketika membayangkan bagaimana saya wafat. Akankah orang-orang yang menyenangi saya akan merasakan kehilangan? Akankah orang-orang yang membenci saya malah bersorak gembira, karena orang yang sangat mereka benci ini tidak akan pernah lagi ada di depan wajah mereka?

Berat. Perasaan saya amat berat membayangkan reaksi saya ketika wafat. Tetapi, satu hal yang saya imani adalah: saya akan kembali ke Sana. Di pangkuan-Nya. Duduk nyaman, tanpa harus memikirkan hal yang memberatkan saya. :)