Untuk pertama kalinya (tentunya setelah mematut-matut diri di depan cermin rumah mereka), seluruh mahasiswa baru UKSW 2014 memakai jas almamater hari ini dalam Malam Inagurasi Mahasiswa UKSW 2014. Sementara, rangkaian terakhir Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) adalah pada saat dilaksanakannya pawai budaya. Bicara masalah OMB, saya punya kenangan-kenangan manis, dan ini adalah dua kenangan yang paling ngena menurut saya.
Pertama, menjadi narasumbernya BTSI. Untuk hal ini, memang saya akui saya menjadi mahasiswa kenamaan saat Biro Teknologi dan Sistem Informasi (BTSI) meminta saya untuk menjadi narasumber dalam video OMB. Saat itu, mereka meminta saya menjawab dua pertanyaan, setelah itu meminta saya menyanyikan Mars Satya Wacana. Dan, benarlah. Dikarenakan kurangnya persiapan, saya hanya bisa memberikan banyak jeda (baca: eee...) dalam setiap pertanyaan saya. Sejak saat itu, saya menjadi pusat perhatian mahasiswa. Bahkan, ada orang yang bilang, "Ini bukannya orang yang di video OMB itu?" atau "OMB itu..." *ashamed* Baiklah, ini nggak usah dibahas lebih lanjut :)
Kedua, berpisah di Jembatan Kemiri. Inilah yang paling menyentuh dan saya harus mengingat hal ini kembali, malam ini. Masa-masa setelah Orientasi Mahasiswa Baru membuat saya harus tegar berdiri untuk menyelesaikan masalah saya sendiri. Teringat, saya harus berpisah dengan Mama di sana. Dan dia berpesan agar saya harus belajar dengan baik agar membuat Mama bangga. Rupanya, ketegaran saya diuji. Masalah yang dihadapi tidak sebesar kacang tanah. Mulai masalah relasi sampai masalah adaptasi yang tak kunjung selesai dengan kampus--lebih tepatnya, fakultas. Saya tidak mungkin menyelesaikan masalah demi masalah ini sendiri. Saya tidak boleh menyombongkan diri. Saya masih butuh Tuhan dan teman-teman untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada. I'm not Christian Paskah The Almighty! Caranya: anggap orang terdekat denganmu adalah keluargamu. Ya, keluargamu. Pergaulanmu juga menentukan siapa kamu di perantauan.
Intinya, kita datang ke sini (baik teman-teman yang datang dari Pulau Jawa atau luar Pulau Jawa) untuk merentang masa depan. Kita tidak boleh bermain-main dengan yang namanya kuliah, karena kuliah adalah menimba ilmu. Ilmu itu penting untuk bekal kita ke depannya.
Setelah ilmu, soft skills juga penting. Tahu sendiri, 'kan, alasannya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar