Minggu, 14 September 2014

Lipat Tangan, Tutup Mata... Mari Kita Berdoa!


Sebelum kita sharing masalah yang sebenarnya sangat vital ini, yuk jawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Pertama, bisakah kita berdoa? Kedua, seberapa seringkah kita berdoa? Ketiga, apakah kita selalu menolak/merajuk ketika kita ditunjuk untuk berdoa karena kita masih berpikir kalau doa itu harus panjang dan puitis. Kalau tidak, doa kita hanya akan 'nyangkut' di awan. Tidak sampai ke telinga Tuhan.

Nah, jika jawaban pertanyaan ketiga adalah 'ya', maka cobalah untuk mengesampingkan pemikiran itu dari sekarang. Hakikatnya, doa adalah salah satu bentuk komunikasi kita kepada Tuhan mengenai hal-hal yang tak bisa disimpan di dalam hati. Ketika memang kita sudah 'lelah' dan tak dapat mengungkapkannya kepada Tuhan, mari kita menjadikan Tuhan sebagai teman kita yang abadi. Yang baka. Yang tak tergantikan. Asal tahu, 'berbicara' dengan Tuhan bisa dianalogikan 'curhat' dengan sahabat, 'mengobrol' dengan orang tua, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan jika kita tidak berbicara dengan Tuhan sehari saja. Kosong. Melompong. Menganga. Sesak, bahkan!

Kalau berdoa adalah satu bentuk komunikasi yang sifatnya intim, maka kalau ingin terdengar intim dengan-Nya, kita harus menyediakan waktu dan tempat. Garis bawahi, ya. Menyediakan. Berbeda artinya dengan menyisakan. Apakah orang menerima makanan sisa? Kalau saya, asal masih banyak, masih bisa menerima. Dengan syarat: makanannya masih hangat dan jelas enak. Beda dengan orang lain. Mokus banget, ya (mokus = rakus, bahasa Batak)! Nah, apakah Tuhan menerima waktu sisa? Yesus saja masih menyempatkan diri untuk berdoa bahkan di saat-saat genting sekalipun, masa dua puluh empat jam yang diberikannya tidak diberikannya bangsa sejam-dua jam saja? Apalagi kalau yang pacaran. Kalau malam mingguan berdua saja bisa disediakan waktunya, waktu berdua buat Tuhan saja masa tidak bisa disediakan? Tidak usah dijelaskan panjang-lebar kalau doa adalah ibadah yang paling sederhana (menurut saya)? 

Ada sebuah pokok doa yang baru saja saya dengar saat khotbah ibadah Minggu tadi. Indah dan baik. Begini: Ya Tuhan, berkatilah tidurku malam ini dan perkenankan saya untuk dapat bangun esok pagi. Namun, jika esok pagi saya tidak bisa bangun, biarkan jiwa saya terbangun dalam tangan kasih-Mu. Hiks :'( Saya benar-benar tergetar mendengar kata-kata tersebut. Secara langsung, ia menyerahkan hidup-mati-Nya di tangan-Nya. Lha, bagaimana orang mau berdoa sebelum tidur? Dia berdoa, lalu biasanya 'amin'-nya besok pagi. Ya, kalau misalnya ia ingat masih dalam kondisi berdoa. Bagaimana kalau tidur betulan? Bagaimana kalau besok ia tidak terbangun? Bukan tidak terbangun karena kesiangan, tetapi tidur yang 'benar-benar' tidur! 

Jadi, bagaimana? Masihkah doamu 'dor'--alias didengar orang, bukan didengar oleh Allah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar