Minggu, 31 Agustus 2014

Menjadi Feminis

Ku wanita. Ku punya harga yang tak mampu kau punyai.
Karena ku hanya mau dihargai. Ku wanita. Ku wanita.
(Siti Nurhaliza, Aku, diambil dari album Fragmen-2014)


Wanita. Sosok yang diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tugas lawan jenisnyalah yang harus membimbingnya perlahan menuju jalan lurus. Jangan memaksakan tulang rusuk yang bengkok itu menjadi lurus. Jika demikian, maka patah adalah konsekuensi yang harus ditempuh. 

Saya pria, namun saya bangga menjadi feminis. Jangan pernah katakan saya transgender, karena saya memang mengerti perasaan seorang wanita dari luar dan dalam. Saya punya teman wanita dan jumlahnya lebih banyak daripada teman pria. Saya menyukai segala sesuatu yang berbau wanita, seperti tata busana. Bukan berarti saya harus memakai blush on, maskara, dan lain sebagainya seperti gadis yang hendak mangkal di tempat lelaki-lelaki usil mengasah kemampuan kejantanannya. Atau dengan kata lain, wisata selangkangan. Lebih bejat lagi laki-laki yang ingin menggunakan cinta yang asali dari-Nya itu hanya untuk mencicipi setiap jengkal tubuh lawan jenisnya saja. Ketika mantra 2159 (dua tubuh jadi satu selama lima menit untuk sembilan bulan) telah mencapai puncak kesaktiannya, maka mereka akan saling menyalahkan. Saya juga peduli terhadap beberapa isu wanita, makanya saya berterima kasih kepada Mira W., Maria A. Sardjono, dan Alberthiene Endah. Juga segudang novel metropop yang saya gemari yang juga mengetengahkan isu-isu wanita dewasa-muda masa kini. 

Saya pria, namun saya bangga menjadi feminis. Saya sering menaruh kasihan dan rasa iba terhadap hal-hal percintaan sederhana yang memojokkan wanita dan mencabik-cabik perasaan. Justru, sayalah yang akan menghajar dan mengoceh (bahkan merajam) sahabat dekat saya (wanita, tentu!) yang tersakiti akibat kelakuan sang pria yang entah mengapa selalu kehabisan akal untuk membuat kisah mereka berdinamika.

Saya pria, namun saya bangga menjadi feminis. Saya sering menaruh kasihan pada wanita yang kehilangan 'mahkota'-nya sebelum saat yang tepat itu tiba. Makanya, saya paling benci melihat cewek-cewek agresif yang tangannya patroli ke sana-ke mari (cowok-cowok juga) untuk mendapatkan kehangatan. Hangat bukan berarti harus bersentuhan dan berpegangan tangan, bukan? Definisi hangat sesungguhnya adalah nyaman dan saling mendukung ketika bersama mereka. 

Saya pria, namun saya bangga menjadi feminis. Saya menaruh salut kepada wanita-wanita pejuang yang karena alasan tertentu harus berjuang memeras keringat agar bisa menghidupi anak-anaknya (contoh: pembantu kos-kosan saya yang kini sudah berambut dua). 

Selamilah dunia wanita sedalamnya. Pahami lawan jenis kita, karena mereka diciptakan untuk saling melengkapi.

Saya bangga menjadi feminis, kamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar