Selasa, 02 September 2014

Bukan Tersesat tetapi Disiapkan Tuhan

Untung saya tidak berteriak di F5 tadi siang. Selain karena F5 adalah kantor fakultas (tahu sendiri, 'kan, bagaimana harus bersikap di kantor meski ada ruangan untuk Usda dan sebagainya?), lantai ini adalah tempat di mana mahasiswa FBS berkeliaran. Alasannya satu: homey. Berteriak memang tidak boleh di kantor fakultas, namun kenapa harus menyelipkan kata 'untung' di awalnya? Kalau di benakmu tersemat pertanyaan ini, maka kamu adalah seorang yang benar-benar peka. Sebab kenapa saya tidak berteriak (meski cuma tersentak 'ha?' dan itu masih dalam level pelan) adalah: saya kehilangan seseorang yang berharga. Om saya. Dia berpulang hari ini. 

Om saya menderita kanker lambung. Sepertinya, kanker lambung yang dideritanya adalah kanker lambung stadium akut meski sampai sekarang saya tidak mengerti karena belum diperiksa. Saat saya menjenguknya untuk pertama dan terakhir kali, dia mengajak saya berbicara. Di sana ada Tante, Mama, dan adik saya.
 "Christ, kapan balik ke Jawa?" tanyanya. Agak geli saya mendengarnya karena Pulau Jawa yang dimaksudkannya itu begitu luas, sementara karena terlalu nanar tatapan saya, saya tidak bisa membenarkan ucapannya itu. *ih, kok gini-gini masih peka akan kebahasaan, sih?*
"Tanggal 20, Amangboru," jawab saya. Amangboru adalah panggilan untuk om saya, karena dia adalah kakak ipar (sepertinya) dari Papa saya.
"Oh, baguslah. Amangboru sudah selesai operasi," imbuhnya. Saya berharap saya bisa bertemu dengan amangboru saya itu. Bapak Koiman Harianja. 
Menengoknya di rumah sakit adalah pembuka mata saya, dan sayangnya mata saya menatap dia dengan nanarnya. Dia bolak-balik berdoa keada Tuhan ketika ia merintih kesakitan. Dia juga sedang mengidamkan semangka saat itu. Namun, kanker yang dideritanya di lambung tidak membolehkannya untuk makan dan minum apapun. Makanan hanya didapat dari infus, sedangkan minumannya hanya didapat dari air yang dioleskan namboru saya di bibirnya. 

Ketika mendengar kabar mengejutkan ini di F5, hati saya (anehnya) tidak merasa hancur berkeping-keping. Benak dan hati saya mengatakan bahwa frasa 'balik ke Jawa' adalah sebuah pertanda. Dan benarlah, kala saya pergi untuk kembali ke Salatiga, hari ini, amangboru saya ikutan pergi. Ya, ikut pergi. Dan, Mama berkata bahwa jalan ini sudah disiapkan oleh Tuhan.

Tuhan sudah menyiapkan peta untuk setiap kita yang ada di bumi. Peta itu telah diberikannya kepada kita: tindak-tutur yang seharusnya mencerminkan bahwa kita ber-Tuhan. Menghindari larangannya. Ikuti jalan-Nya. 

 Di dalam dunia ada dua jalan: lebar dan sempit.
Mana kau pilih?
Yang lebar api, jiwamu mati.
Tapi, yang sempit, Tuhan berkati!
 (Talenta Singers - Di Dalam Dunia Ada Dua Jalan)

Ah, *seka air mata, lap ingus* ketika kita sudah mengikuti jalan-Nya, tinggal tunggu. Kita akan dijemput-Nya. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar