Cuap-cuap saya hari ini terinspirasi dari petikan sinetron Cinta Tak Pernah Salah yang dibintangi Paramitha Rusady dan Gunawan pada 2002 lalu. Ceritanya, sinetron ini sudah sampai pada episodenya yang ke-4. Dalam episode tersebut, ketika Handoko (ayah Paramita, diperankan Toro Margens) memarahi Paramita (Paramita Rusady) karena berpacaran dengan Roy (Gunawan) karena sebal, ia memberikan bukti kepada anaknya dengan segebung bukti bahwa Roy tak pantas dicintai. Salah satunya adalah ospek begitu merendahkan harga diri manusia.
Nah, selain itu, beberapa hari yang lalu saya me-retweet kicauan seorang penulis terkenal yang juga favorit saya, Alberthiene Endah yang mengkritik beberapa hal terkait masalah ospek dan nama-nama samaran lainnya seperti makrab (malam keakraban) dan lain-lain. Ia mengatakan: konsep ospek tuh harusnya lawak-lawak aja, kecuali jika lulusannya ingin diarahkan menjadi preman pasar.
Dan... ingatan saya terbang ke setahun lalu, ketika saya di-ospek (dengan nama samaran malam keakraban) dengan atribut sebagai berikut: besek yang ditancapkan awan bertuliskan ED (English Department) di dalam sebuah awan hijau lengkung tiga belas (karena angkatan 2013) dengan kawat, baju longgar dengan warna kuning dan biru (di-switch dua hari satu malam), celana training, sepatu, termos yang dikalungkan dengan tali yang dikelabang. Tanda pengenal juga dibuat superunik dengan menggunakan bentuk layang-layang, tampak depan dan tampak belakang. Tampak depan adalah tiga huruf awal nama peserta, sedangkan tampak belakang adalah nama kelompok yang terambil dari satu kata dalam judul buku terbitan Penguin Readers yang biasa digunakan sebagai media belajar mata kuliah Extensive Reading. Di sana kami diminta untuk ikut welcoming game yang bukannya menyenangkan malah bikin tegang karena dimarah-marahin executor (tukang marah-marah). Setelah lelah, sesi checking tiga jam yang bikin lama karena hanya mengecek apa yang diminta oleh panitia seperti koin receh de-te-be-el (dan tetek bengek lainnya). Saya maju hanya gara-gara lipstik yang salah warna. Dimintanya merah cabe, tapi dapatnya warna crimson red atau crimson pink. Dan dimarah-marahi karena salah ini-itu-gini-gono-gitu-deh! Sampai gusi gue BERDARAH hanya buat nungguin kapan marah-marahnya selesai. Ditambah lagi penyusup dari angkatan tua yang kerjaannya bikin onar. Sialnya, penyusup itu ada di kelompok saya!
Baiklah, yang saya mau telaah adalah: kenapa konsep makrab (nama samaran ospek) itu harus berkaitan dengan hal-hal kejam yang merendahkan martabat, tetapi tidak sesuai dengan akronim yang diciptakan. Malam Keakraban. Kalau dibilang malam keakraban, berarti segala sesuatu harus dilakukan dengan akrab, menjalin kebersamaan, saling menguatkan, saling ketawa-ketiwi-cekikikan-sana-sini, tidak dengan eksekusi, dan diakhiri dengan minta maaf karena semuanya pura-pura dan hanya acting. Dan satu hal tercipta di benak saya: apa-apaan ini?
Begitu, ya, cara mengakrabkan diri dengan senior? Senior menunjukkan kekuasaannya sementara si juniornya sendiri terkapar tak berdaya dalam kekuasaan senior yang (katanya) mencoba mengetes mental, karena hipotesis saya yang berbunyi 'marah-marahnya senior itu hanya satu persen dari kerasnya kehidupan kampus yang kamu jalani' itu benar-benar terbukti. Dan, lihat buktinya. Dengan kekejaman itu, jurang antara progdi kami dengan progdi sebelah justru semakin melebar (tetapi untunglah telah dilakukan klarifikasi karena kejadian yang memang bikin kuping LKF panas). Anak-anak malah nggak nyatu satu sama lain, malah tenggelam dalam individualismenya sendiri.
Tapi banyak orang ngomong kalau suasana digalak-galakin seperti itu adalah ngangenin. Lima belas persen saya mengakui hal itu, tetapi... sisanya? Sepertinya tidak ingin berada di neraka untuk kedua kalinya. Apakah lulusan kita diarahkan menjadi lulusan yang tidak peka akan keberadaan orang lain sebagai manusia? Apakah lulusan kita ingin menjadi orang yang hanya keras di depan tapi lembek di dalam? Hmm... biar ospek dari universitas itu sendiri yang menjawab.