Seribu puk-puk pun nggak bakalan cukup untuk menghibur dari ratapan nasib saya yang memang sedang merasa serba salah. Ketika kamu merasa serba salah, kamu pasti akan curhat, 'kan? Curhat kepada seseorang yang bisa kamu percaya, yang bisa kamu beri rahasiamu, dan bisa memberikan solusi yang justru menentramkan setiap sisi hatimu yang kegundahan. Dan, kamu bisa ngebayangin nggak kalau kamu harus curhat karena kesalahan sendiri? Dan kesalahan itu adalah kesalahan yang paling ngena dan yang paling nggak bisa diubah dalam hati kamu. Yak, hipokrit! Hipokrit = orang yang berpura-pura.
Menjadi hipokrit adalah (sebaiknya) sesuatu yang dihindari untuk sebagian orang. Kamu bayangin aja bagaimana wajah Arjuna yang menyimpan jiwa Sangkuni di dalamnya! Ngenes, kan? Itulah yang begitu mencabik perasaan saya akhir-akhir ini. Rasa hati saya tercabik dikarenakan sebuah hal sepele.
Ceritanya, progdi saya akan mengadakan acara kumpul-kumpul, meski mereka menyebutnya sebagai makrab. Nah, dari awal saya memang sudah tidak simpati dengan diadakannya makrab ini karena saya disandingkan dengan seseorang yang sudah saya beri rasa antipati sejak awal. Salahnya satu: bercandanya nggak tahu aturan dan mulutnya itu lebih nyelekit dan lebih pedas daripada mulut saya! Siapa yang mau simpati bahkan empati sama orang yang demikian? Sifat buruk sayalah yang mendorong untuk menabur benci bahkan kesumat (bayangkan, tingkatannya sudah kesumat!) kepada orang yang saya benci itu.
Dan, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari kepanitiaan itu. Pertama, karena saya nggak suka sama orang itu. Kedua, karena saya nggak mau merusak angkatan. Serius, maksud saya baik, tetapi rupanya maksud baik saya disambut dengan pemberian pemahaman oleh teman saya: by phone. Tujuannya, sesuai dengan akronimnya, yaitu "malam keakraban" memang ditujukan untuk meluruskan persepsi anak-anak progdi untuk menjadi akrab, dan untuk menjembatani antara anak yang satu dengan anak yang lain. Tetapi... rupanya rencana mulia ini disambut dengan kontra sebagian anak yang ngomong kalau acara ini beginilah, begitulah, enggak gunalah, dan lain-lain.
Tersentuhnya di situ. Panitia bahkan koordinatornya harus berusaha keras untuk meyakinkan mereka yang berpendapat demikian agar mau dan merangkul.
Di balik itu semua, saya harus menetapkan diri saya. Ikutkah, tidakkah? Jawabannya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar