Rabu, 03 September 2014

Kok Hemat-Hematan?

Kisah janda dari Sarfat adalah 'pengganggu' pikiran saya semalam. Tahu, 'kan, bagaimana kisahnya? Pesan moralnya adalah persembahan yang diberikan dengan tulus akan lebih diterima oleh Tuhan ketimbang banyak-banyak tetapi tidak rela. Namun, sulit sekali menemukan 'janda dari Sarfat' akhir-akhir ini, bukan? Bukan berarti perempuan, lho! Yang dimaksudkan dengan 'janda dari Sarfat' ini adalah orang-orang yang memberi dengan tulus hati. 

Nah, cerita saya hari ini berhubungan dengan cerita tersebut. Semalam, saya bertemu para penghuni kos-kosan Kania, yang kebanyakan adalah para wanita. Mereka bertanya tempat di mana saya bergereja--GPIB Tamansari. Dan, tahu tidak? Mereka merekomendasikan saya untuk bergereja di GKJ 55 (depan UKSW). Katanya gereja tempat saya beribadah itu jauh dibanding gereja di depan kampus. Oke, ini masih bisa saya terima. Dan, yang tidak bisa saya terima adalah alasan ini: hemat ongkos. *tarik napas* Kalau misalnya hemat ongkos itu tidak diimbangi dengan kekhusyukan beribadah (di sini saya tidak mengatakan bahwa ibadah di gereja saya itu khusyuk--semua tergantung kita), percuma saja bukan?

Selain cerita itu, saya sebenarnya ingin mengkritisi kebiasaan buruk saya sendiri yaitu: suka ngutang dan pelit. Memang ini kebiasaan menahun, malah kalau lagi parah-parahnya, saya suka ngutang berbulan-bulan dengan alasan pura-pura lupa. Pelit itu, kalau teman-teman bilang saya suka perhitungan.Lebih memikirkan kesenangan sendiri ketimbang kelangsungan hidup bersama atau pribadi. Intinya, daging yang berkuasa.

Nah, apa yang terjadi jika kita lebih mendengarkan suara daging daripada suara hati? Untuk setiap kita yang membaca artikel ini (juga saya), jangan pernah berpikir selamanya daging itu memanjakan dan membuat perut kita kenyang. Terlalu banyak makan daging bisa menyebabkan kolesterol, 'kan? Kalau misalnya daging itu menyebabkan jantung koroner dan penyakit-penyakit 'elite' yang biayanya juga 'elite', jero' juga! Kesehatan itu bukan hanya masalah badan sakit diberi obat langsung sembuh, tetapi juga kesehatan hati itu perlu. Hati sakit (bukan masalah cinta, lho!) juga perlu diobati. Jangan bilang kamu teringat lagunya Opick yang pertama kali membuat dia ngetop itu. 

Berhutang juga nggak baik, lho (peringatan juga kepada diri sendiri, ini, mah!). Berhutang terlalu lama juga membuat si pemberi utang itu memendam dongkol setengah mampus, ya nggak, sih?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar