Sesama manusia harus saling menghormati. Benar, 'kan? Itu apa yang dikatakan Bapak/Ibu Guru kita ketika masih menginjak kelas 1 SD. Nah, berhubung hari-hari ini banyak anak yang tidak mengindahkan nilai sopan santun dan budi pekerti, saya kira pembentukan karakter harus dimulai dari anak masih kecil. Ya, nggak, sih? Ini sedikit parenting, tapi memang benar-benar begitu adanya. Nah, salah satu bentuk dari ketidakhormatan sesama manusia adalah: ngrasani. Artinya: membicarakan orang dari belakang.
Sekadar tahu, saya pluralis. Saya merasa sah dan tidak ada beban untuk menimba ilmu dari agama lain. Maka dari itu, tulisan hari ini terinspirasi dari khotbah Ustazah Qurotta' Ayunin dalam acara Taman Hati MNC TV yang memaparkan salah satu cabang iman: menghindari perkataan yang sia-sia. Semoga kamu masih betah membaca tulisan saya karena saya akan memaparkan isi khotbah yang ngeletek kering di kepala saya ini. Tahu, nggak, itu bermanfaat sekali, lho!
Omongan Itu Apa, Sih?
Bicara omongan/perkataan, kita pasti sering melontarkannya dalam hidup sehari-hari. Pertanyaannya, definisinya apa? Baiklah, definisi perkataan adalah suara yang keluar dan memberikan pengertian kepada orang lain. Berarti, kalau kita update status di akun Facebook/Twitter atau bicara dalam hati bukan omongan. Sepaham, ya?
Kenapa Kita Menghindari Omongan Sia-Sia?
Omongan/perkataan sia-sia adalah ketika kita berbicara yang tidak bermanfaat, atau keadaan yang mengharuskan kita berhadapan dengan orang yang gagal paham. Jelas, it's kind of wasting your time! Nah, bentuk-bentuk omongan yang sia-sia itu ada banyak, lho! Salah satunya adalah membicarakan orang dari belakang (ngrasani). Nah, ngrasani dalam Islam sendiri dibagi menjadi dua, yaitu ghibah dan buhtan. Ghibah adalah menjelek-jelekkan kekurangan orang yang benar-benar ada, sedangkan buhtan adalah menjelek-jelekkan orang lain berdasarkan gonjang-ganjing orang, atau bahasa kita disebutnya: FITNAH. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan, karena secara langsung kamu membunuh perasaan dan harga diri seseorang dikarenakan fakta yang "dibuat-buat". Dan, saya mengalami sendiri.
Saya bukan meminta dikasihani di sini, tetapi, ada lho orang yang ngomong saya A, ngomong kalau saya itu B, dan lain sebagainya. Apalagi ngomongnya itu nggak kira-kira, seolah saya bukan manusia. Bagi mereka, saya adalah virus ebola yang harus dihindari. Manusia adalah makhluk terhormat. Lantas, dengan kehormatannya, manusia tidak boleh menginjak dan menurunkan harga diri manusia lain, seolah dia adalah yang paling atas dan yang dihina adalah orang yang paling nista.
Hmm... kalau kamu ketemu orang seperti itu, apa masih bisa, ya, disebut manusia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar