Senin, 01 September 2014

Dipecundangi Diri Sendiri

Pernah, nggak, sih, merasa dipecundangi diri sendiri? Dipecundangi diri sendiri itu maksudnya adalah ketika kamu merasa lemah dan terpuruk karena kesalahan yang kamu perbuat. Mau tahu? Saya sering. Banyak perbuatan yang membuat saya merasa terpuruk, dan kebanyakan karena kesalahan saya sendiri.

Banyak cap yang melekat pada diri saya selama dua belas tahun. Namun, yang paling permanen berada dalam diri saya adalah: saya tidak bisa menjaga rahasia orang lain. Lima menit seseorang menceritakan rahasianya kepada saya, maka saya akan membeberkannya sepuluh atau lima belas menit kemudian kepada orang lain. Sekali lagi, pertanyaan ini saya tanyakan kepada kamu. Masihkah kamu mau menyimpan rahasiamu yang paling dalam kepada saya? Untuk pertimbangan, silakan baca postingan saya sebelumnya di sini. 

Refleksi yang dalam menurut saya adalah: bagaimana saya (dan kamu yang pernah mengalami hal ini juga) harus mengontrol mekanisme pembukaan mulut ketika berkata-kata. Kembali, pikir itu pelita hati. Latah memang, manusia (termasuk saya) sering tidak memikirkan akibatnya sebelum tindakan itu terjadi. Bersyukurkah kita kalau Tuhan memberikan otak yang besar, dua telinga, dua mata, dan satu mulut? 

Otak besar berfungsi untuk berpikir dengan bijak dan masak-masak ketika memikirkan sesuatu. Dua telinga berfungsi untuk banyak mendengar dan memilah-milah mana yang nyata, dan mana yang cuma katanya. Dua mata untuk melihat kejadian yang pantas dilihat untuk direfleksikan oleh setiap kita yang membaca artikel ini. Dan, satu mulut berfungsi sebagai alat untuk mengontrol pembicaraan. Karena hakikatnya kita tidak boleh banyak bicara. Banyak bergerak. 

Ingat lagu ini, 'kan?

Hati-hati gunakan tubuhmu.
Hati-hati gunakan tubuhmu.
Allah Bapa di Surga melihat ke bawah.
Hati-hati gunakan tubuhmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar