Minggu, 15 Februari 2015

Ra Tau Isin

Siang ini, saya akan menceritakan perasaan saya yang sejak Sabtu kemarin, atau saat Valentine tepatnya, sangat berkecamuk. Maklumlah, jomblo dengan kondisi mengenaskan seperti saya, ketika merasakan yang namanya jatuh cinta akan mengalami overdosis yang sangat hebat. Maksud saya, saya akan menginginkan kehadirannya setiap hari, meskipun ketika mendengarkan namanya saya akan menggelinjang kesenangan setengah mampus kalau tidak ada *ya, kali, ya, kalau bisa menggelinjang di atas tanah!*.

Sepertinya saya harus berterima kasih kepada ketiga sahabat saya--dua teman seangkatan dan satu kakak tingkat--untuk mengenalkan saya kepada sebuah band indie lokal Salatiga (dan saya harus akui, band indie lokal Salatiga lebih kece ketimbang band indie kota saya sendiri, Lampung!) bernama Vexia. Sepertinya saya pernah mendengarkan nama ini sebelumnya Tetapi, batang-batang hidung orang-orangnya seperti apa saya jelas nggak bisa mengetahuinya. Ya, kan? Nah, keberjasaan ketiga sahabat saya inilah yang membuat saya menjadi ngefans setengah mampus. Seperti yang saya perkirakan, saya akan ngefans sama band ini. You know me, saya terkadang terkena sindrom-menjadi-feminim. Ini diakibatkan vokalisnya yang punya ketampanan di atas rata-rata dan auranya yang sanggup membelenggu gadis-gadis. Yang membuat saya terkejut lagi, dia cowok Ambon manise yang membuat saya benar-benar tidak memercayai kalau dia cowok Ambon! Apa yang tidak lebih menggiurkan dengan postur tubuh yang tinggi dan tegap, kulit putih terawat, mata yang menarik, dan lain sebagainya (yang jelas saya berubah feminim ketika melihat dia!).

Tetapi yang ingin saya ceritakan di sini adalah: sikap ngefans saya yang terkadang nggak tahu malu. Berani nge-chat si doski ketika dia online dengan chat-chat yang nggak jelas (tips: ini salah satu cara buat ngelatih mental, meski nanti bakalan ditanya "Kowe ra tau isin, yo?"), sampai yang paling wajar adalah ketika dia berulang tahun. Memberanikan diri, saya mengirimkan pesan kepadanya lewat Facebook. Bodohnya, saya bangga dibilang ra tau isin. Pertanyaan saya: agresifkah saya?

Sering saya merasa demikian kepada orang yang punya sedikit 'kelebihan', khususnya di bagian fisik. Sampai-sampai, orang ngira kalau saya ini ganjen, menthel, lenjeh, dan lain sebagainya. Sampai teman satu kos saya mengingatkan saya bahwa kalau ngefans itu mesti tau isin (baca: tahu malu dan batas) karena kita nggak bisa keluar dari batas. Kita sebagai fans itu seperti terkurung dalam sangkar. Sekalinya perasaan kita berubah, kita akan dianggap aneh oleh orang sekitar. Memang, menjadi secret admirer adalah dilema.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar