Minggu, 08 Februari 2015

Ketika Media menjadi Perusak

Baiklah. Mari kita mematikan televisi dan menggunakan kekuatan remote kita dan memulai cuap-cuap kita siang ini. Dunia di abad ini tidak pernah jauh dari sorotan layar kaca. Lihat, sinetron de-te-be-el (dan tetek bengek lainnya) sudah menguasai setengah dari kehidupan kita. Sehingga, jangan heran kalau jargon-jargon meleteknya Syahrini seperti ciao bella dan lain sebagainya itu melekat dalam benak masyarakat. Selain jargon Syahrini, jargon "o-em-ji helo" dari Prilly Latuconsina (Ganteng-Ganteng Seringgila Serigala) itu juga lagi sering diucapkan oleh teman saya. Juga tak bisa lagi ditampik bahwa adegan-adegan romantis ala sinetron dan FTV itu kini dikhayalkan oleh anak-anak remaja untuk dilakukan. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan masyarakat kita sampai banyak tayangan-tayangan yang distop Tramtib KPI?

Siapa yang dari kita tidak merindukan kehadiran sinetron dengan kualitas seperti Keluarga Cemara? Sinetron yang mengetengahkan nilai-nilai moral dalam keluarga ini adalah salah satu sinetron yang diharapkan kehadirannya oleh masyarakat yang sedang dirajai oleh kehadiran sinetron Tukang Bubur Naik Haji, Diam-Diam Suka, Manusia Harimau, dan lain sebagainya. Kok saya tahu? Gini-gini saya mengakrabi dunia televisi dan segala sesuatu di baliknya. Tetapi, saya butuh tayangan yang benar-benar mendidik. Sinetron yang mengetengahkan bagaimana seharusnya remaja-remaja di dunia ini survive dengan menggunakan tingkah laku yang diwariskan zaman ke zaman. Bukan dengan mengetengahkan peluk-pelukan di sekolah, mandi pakai baju renang yang aduhai, dan lain sebagainya.

Selain sinetron, rupanya lagu-lagu sekarang juga ikut-ikutan merusak generasi muda, apalagi anak kecil. Bayangkan, betapa mirisnya ketika anak kecil menyanyikan lagu-lagu berbau dewasa dan romansa, sementara mereka belum boleh bahkan tidak dibolehkan untuk mengecap manisnya cinta yang seperti itu. Telinga siapa yang nggak sakit ketika mendengar anak kecil nyanyi lagu Pergi Pagi Pulang Pagi daripada Lihat Kebunku atau Pok Ame-Ame

Satu hal lagi, media adalah instruktur plagiarisme yang 'paling nyata'. Bayangkan saja, berapa banyak lagu dan program televisi yang telah diplagiasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hingga, semua ini berujung pada sebuah kenyataan bahwa kita tidak menyukai produk sendiri karena kurangnya kreativitas dan lebih mengacu kepada uang dan rating. Tidak mementingkan bagaimana acara televisi dan lagu-lagu itu harus menjadi sebuah hal yang semestinya mendidik kita.

Media, dengarkanlah. Janganlah eksistensimu malah merusak kami sebagai generasi muda. Perhatikanlah, dan tunjukkanlah kreativitasmu untuk membina kami agar kami dapat menjadi setara dengan orang-orang lain. Tidak hanya plagiarisme, tidak hanya mementingkan uang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar