Senin, 16 Februari 2015

Kantoi!

Pagi ini, saya mengerjakan tugas dibarengi dengan mendengarkan lagu Kantoi karya seorang penyanyi Malaysia yang menurut saya genre musiknya sealiran dengan Lenka, Lily Allen, Yuna--pokoknya saya suka lagu-lagu beraliran seperti ini. Lirik sederhana tetapi menyampaikan pesan yang konkret dan mudah diterima. Lagunya menceritakan tentang dua orang, pacarnya si tokoh utama dan si tokoh utama yang saling selingkuh. Yang satu ketahuan selingkuh di akhir, yang satu lagi menghindar dari masalah besar yang menimpanya--ya, selingkuh lah! Oh, ya. Kantoi = ketahuan/gotcha!

Sekarang, mari kita kaitkan dengan kehidupan kita sehari-hari. Masih nginjak bumi, kan? Nah, ada beberapa situasi dalam kehidupan kita di mana kita bakalan kedapatan suara seperti 'gotcha!'. Yang pasti, itu terkait dengan ketidakjujuran kita. Berbicara masalah ketidakjujuran, pastilah hati nurani kita ikut berbicara. Entah dengan berkeringat segede-gede jagung, mata yang berkaca-kaca, ngomong pendek-pendek (bahkan nggak ngomong sama sekali!), dan pertanda-pertanda yang lainnya. Dalam, ya, pesan lagu ini? Meski temanya sederhana, tentang cinta dan segala hal yang membelitnya, kita juga melupakan satu hal yang penting: hati nurani.

Hati nurani? Pastilah kita sering mendengarkan istilah ini. 'Hati nurani lo di mana?' atau 'Pake hati nggak sih lo?' Mungkin, kita bisa mendefinisikan hati nurani sebagai 'hati kecil' atau bagi kamu yang suka nggombal akan mendefinisikannya sebagai 'lubuk hati yang terdalam'. Ngaku! Ketahuan kan yang hobi ngebohongin cewek dengan sejuta kata yang menyesakkan hati? *halah!* Nah, hati nurani ini juga kecil-kecil cabe rawit. Kalau kita kedapatan mendengarkan sesuatu yang bertentangan dengan nilai moral yang terinternalisasi dalam diri kita, kita pasti akan merasakan diagnosis di atas tadi. Kalau kita merasakan apa yang didiagnosis tadi, kita masih normal. Tetapi, kalau sudah tidak lagi, berarti pertanyakan dirimu. Melawan hati nurani = melawan suara Tuhan. Bukan saya mau khotbah di pagi harimu, tetapi yuk coba kita pikirkan matang-matang. 

Masihkah kita mengingkari kalau kita selalu gelagapan saat melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral? Kalau kita masih mengingkarinya hingga sekarang, jangan sampai hati kita menjadi mati. Kalau hati nurani sudah mati, saya nggak tahu deh mau jadi apa ujung-ujungnya. Kantoi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar